Womanindonesia.co.id – Berat badan (BB) anak menjadi salah satu indikator penting untuk menilai apakah tumbuh kembang si kecil berjalan optimal. Namun tidak sedikit orang tua yang menghadapi kondisi berat badan anak sulit naik atau sering disebut sebagai BB seret. Kondisi ini kerap memicu kekhawatiran karena bisa menjadi tanda adanya masalah gizi atau gangguan pertumbuhan.
Melihat pentingnya isu ini, PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) meluncurkan kampanye “Pejuang Berat Badan Anak” dalam momentum Hari Gizi Nasional 2026. Kampanye ini bertujuan mengedukasi orang tua, khususnya para bunda, agar lebih memahami pentingnya pemenuhan nutrisi seimbang, deteksi dini, serta pemantauan rutin untuk memastikan berat badan anak mencapai angka ideal.
Kampanye ini juga melanjutkan komitmen Sarihusada melalui gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) yang pada 2025 lalu berhasil meraih dua Rekor MURI melalui skrining pertumbuhan anak secara daring dan luring dengan lebih dari satu juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan bahwa prevalensi underweight atau berat badan kurang pada anak di bawah lima tahun masih mencapai 16,8%, meningkat dari 15,9% pada 2023. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko stunting dan gangguan perkembangan anak.
Mengapa Berat Badan Anak Sulit Naik?
Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, berat badan dan tinggi badan merupakan parameter penting dalam menilai status gizi anak.
Status gizi anak, kata ia adalah salah satu tolak ukur penilaian tercukupinya kebutuhan asupan gizi harian serta penggunaan zat gizi tersebut oleh tubuh. Dan berat badan dan tinggi badan merupakan dua parameter penting dalam penilaian status gizi anak.
Orang tua dianjurkan menimbang berat badan anak minimal sebulan sekali pada anak usia dibawah 1 tahun dan minimal 3 bulan sekali sampai anak usia 2 tahun oleh petugas kesehatan. Jika asupan nutrisi anak senantiasa terpenuhi dan digunakan seoptimal mungkin, tentu tumbuh kembangnya akan optimal. Namun jika sebaliknya, status gizi si Kecil bisa saja bermasalah sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya hingga dewasa kelak.
“Oleh karena itu, gejala berat badan kurang atau berat badan anak sulit naik (BB seret) pada anak perlu diwaspadai karena hal ini dapat menandakan gangguan pertumbuhan,” jelas dr. Ian di Jakarta, Jumat (6/3).
Secara umum, beberapa faktor yang dapat menyebabkan berat badan anak sulit meningkat antara lain:
1. Asupan nutrisi tidak mencukupi
Anak mungkin tidak mendapatkan kalori dan protein yang cukup untuk mendukung pertumbuhan.
2. Pola makan yang kurang seimbang
Menu harian yang tidak mengandung kombinasi karbohidrat, protein, lemak sehat, dan sayuran dapat memengaruhi pertambahan berat badan.
3. Penyerapan nutrisi tidak optimal
Dalam beberapa kasus, tubuh anak tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik.
4. Kurangnya pemantauan pertumbuhan
Tanpa pemantauan rutin, orang tua bisa terlambat menyadari adanya masalah pertumbuhan.
Cara Mengatasi Berat Badan Anak yang Sulit Naik
Untuk membantu meningkatkan berat badan anak, orang tua perlu memperhatikan beberapa langkah penting yang direkomendasikan oleh para ahli.
Pertama, pastikan menu makan anak memiliki komposisi gizi seimbang. Setiap porsi makan sebaiknya mengandung sumber karbohidrat, protein hewani, sayur, serta lemak sehat.
Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, serta susu memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain itu, pemantauan pertumbuhan harus dilakukan secara rutin. Orang tua disarankan menimbang berat badan anak secara berkala di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu, atau rumah sakit.
“Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga risiko masalah kesehatan gizi anak dan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dapat dicegah. Dengan berkonsultasi, orang tua bisa menyesuaikan kebutuhan yang tepat dengan kondisi anak. Jika diperlukan, pada kondisi berat badan rendah dan berat badan seret atau sulit naik biasanya dokter juga bisa merekomendasikan pemberian konsumsi susu tinggi kalori untuk mengejar kenaikan berat badan. Namun perlu diingat, pemberian susu tinggi kalori ini harus dengan rekomendasi dan pemantauan dokter spesialis anak,” jelas dr. Ian.
CEO PT Sarihusada Generasi Mahardika, Joris Bernard, menegaskan bahwa perusahaan terus berkomitmen membantu mengatasi masalah gizi pada anak Indonesia.
“Sarihusada terus berkomitmen kuat untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak-anak Indonesia, khususnya dalam upaya mengatasi masalah gangguan pertumbuhan seperti kondisi berat badan kurang. Oleh karena itu, Sarihusada memiliki gerakan bernama ‘Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS)’ yang pada 2025 lalu telah memecahkan dua Rekor MURI. Untuk Rekor MURI pertama yang dicatat adalah ‘Skrining Stunting secara Daring kepada Peserta Terbanyak (1.155.524 Peserta).’ Sedangkan Rekor MURI kedua adalah ‘Penyuluhan dan Skrining Stunting secara Luring kepada Peserta Terbanyak (10.195 Peserta).’ Pada tahun 2026 ini, komitmen tersebut terus kami lanjutkan dan diperkuat melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”, yang diharapkan dapat semakin memperluas upaya edukasi kepada masyarakat, mendorong deteksi dini, serta mendukung keluarga dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang hebat di masa depan,” ujarnya.
Aktris sekaligus ibu dua anak, Cut Meyriska, juga berbagi pengalamannya menghadapi kondisi berat badan anak yang sulit naik.
“Sebagai seorang Bunda, kondisi berat badan anak yang sulit naik atau BB seret sering jadi kekhawatiran utama. Sebab, berat badan merupakan indikator yang mudah dipantau dan terukur. Untuk para orang tua yang sedang menjadi Pejuang Berat Badan Anak, jangan merasa sendirian. Tidak sedikit ibu mengalami hal yang sama. Dari pengalaman saya saat anak mengalami BB seret, terpenting adalah tetap tenang, pantau pertumbuhan anak secara rutin, penuhi kebutuhan gizinya dengan optimal, dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” kata Cut Meyriska.
Ia sangat mengapresiasi inisiatif Sarihusada melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”, sehingga para Bunda di Indonesia yang sedang mengalami tantangan yang sama sebagai Pejuang Berat Badan Anak bisa mendapatkan kemudahan akses edukasi dan cek pertumbuhan Si Kecil.
Melalui kampanye ini, Sarihusada juga mengajak para orang tua untuk melakukan deteksi dini risiko gangguan pertumbuhan anak melalui fitur Growth Checker yang dapat diakses secara daring.
Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director Sarihusada, Angelia Susanto, menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam memastikan tumbuh kembang anak yang optimal.
“Melalui inisiatif ini, kami ingin mengajak para Bunda di Indonesia untuk deteksi sejak dini risiko gangguan pertumbuhan pada si Kecil dan bergabung dalam kampanye Pejuang Berat Badan Anak dengan melakukan Growth Checker untuk #PejuangBBanak yang dapat diakses dengan mudah melalui bit.ly/pejuangbbanak-alodokter. Kami berharap, kampanye ini bisa ikut berkontribusi mendukung pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan kesehatan anak Indonesia sedini mungkin, dan memberikan intervensi gizi yang tepat dalam mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius kedepannya. Sebab kami percaya, dengan intervensi gizi yang tepat, anak-anak Indonesia bisa tumbuh sehat dan berkembang secara optimal untuk jadi generasi maju,” tutup Angelia.
Dengan edukasi yang tepat, pemantauan rutin, serta pemenuhan nutrisi seimbang, orang tua dapat membantu memastikan berat badan anak bertambah sesuai usia dan tahap perkembangannya. Hal ini penting agar anak tumbuh sehat, aktif, dan siap menghadapi masa depan dengan optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







