Koordinator Bidang Pembangunan Rendah, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Anggi Putri Pertiwi juga mengungkapkan, Penerapan Ekonomi Sirkular sebagai model ekonomi hendaknya mengoptimalkan penggunaan sumber daya, mendesain produk agar memiliki daya guna selama mungkin, dan mengembalikan sisa proses produksi dan konsumsi ke dalam siklus produksi.
Ekonomi sirkular tak hanya mengenai pengelolaan limbah melalui praktik daur ulang, tetapi juga tentang efisiensi sumber daya, mencakup serangkaian intervensi di seluruh rantai pasok yang berdampak tidak hanya pada aspek lingkungan tapi juga ekonomi dan sosial.
“Pemerintah akan terus mendukung dan terus bersinergi dengan semua pemangku kepentingan agar upaya dalam mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke lautan sebesar 70% di tahun 2025 dapat terwujud,” kata Anggi.
Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia, Dr. Agustini Raintung mengungkapkan, sebagai mitra Danone-Aqua dalam menjalankan program Inclusive Recycling Indonesia (IRI), kami melihat bahwa ketiga pilar #BijakBerplastik dapat memberikan nilai tambah kepada kehidupan masyarakat dan para pemulung.
“Penerapan bisnis yang sirkular juga memberikan dampak yang luar biasa kepada kesejahteraan masyarakat dari implementasi kegiatan-kegiatan Bijak Berplastik yang kami dampingi di beberapa daerah, kami dapat melihat langsung misalnya di pengumpulan sampah pada TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse Reduce Recycle), seluruh ekosistem masyarakat yang terlibat di dalamnya dapat merasakan dampak dari kegiatan pemilahan sampah, utamanya sampah plastik,” kata Agustini.
Lebih lanjut ia mengatakan, walaupun pengelolaan sampah plastik masih jauh dari sempurna, namun gerakan #BijakBerplastik dapat menjadi sebuah benchmark yang baik untuk mengarah ke kondisi ideal sehingga dampak-dampak buruk seperti efek perubahan iklim karena emisi karbon yang sudah mulai kita rasakan, dapat ditekan dan dikurangi secara bertahap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News