Womanindonesia.co.id – Di tengah dinamika global yang kian tak menentu, Indonesia dihadapkan pada tantangan baru akibat eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Dampaknya terasa hingga ke berbagai sektor, mulai dari lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap sistem ekonomi global yang rapuh dapat membawa risiko besar bagi stabilitas nasional. Namun, di balik tantangan tersebut, muncul harapan untuk memperkuat fondasi ekonomi yang lebih mandiri dan berakar pada kekuatan dalam negeri.
Dewan Ekonomi Rakyat melihat momentum ini sebagai titik penting untuk melakukan transformasi. Ketua Umumnya, A Edi Wahyudi Y, menekankan pentingnya membangun sistem ekonomi yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dari kekuatan rakyat.
“Krisis global akibat konflik geopolitik dunia harus menjadi pelajaran penting bahwa bangsa Indonesia tidak boleh bergantung pada sistem ekonomi global semata. Indonesia harus membangun kekuatan ekonominya sendiri melalui sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan rakyat,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/4).
Pendekatan ini kemudian diwujudkan melalui gagasan DERNOMICS, sebuah sistem ekonomi rakyat yang dirancang untuk menyatukan peran negara dan masyarakat dalam menciptakan ekonomi yang tangguh dan berkeadilan. Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, DERNOMICS juga menempatkan pemerataan kesejahteraan sebagai tujuan utama.
Dalam kerangka ini, masyarakat tidak lagi diposisikan sekadar sebagai konsumen, tetapi sebagai pemilik, produsen, sekaligus penggerak ekonomi. Konsep ini menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif, di mana kekuatan ekonomi tumbuh dari partisipasi luas rakyat.
Salah satu implementasi nyata dari DERNOMICS adalah pengembangan Industri Rakyat Terpadu. Model ini menghubungkan sektor hulu hingga hilir dalam berbagai bidang strategis seperti pangan, energi, manufaktur, dan logistik. Dengan memaksimalkan potensi sumber daya lokal, sistem ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor serta meredam dampak fluktuasi global.
Tak hanya itu, hadir pula konsep BUMDER (Badan Usaha Milik Dewan Ekonomi Rakyat) sebagai instrumen utama. Berbentuk koperasi rakyat modern, BUMDER menjadi ruang kolaborasi antara kekuatan investasi, kepemilikan masyarakat, dan kebijakan negara. Model ini menawarkan pendekatan baru yang memadukan nilai ekonomi dan sosial dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Untuk mendukung langkah besar ini, Dewan Ekonomi Rakyat telah menyiapkan investasi rakyat tahap awal sebesar Rp 2.178 triliun. Dana tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti industri pangan, energi, infrastruktur, hingga penguatan sistem logistik nasional.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, serta nilai gotong royong yang mengakar, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai kekuatan ekonomi dunia yang berkeadilan.
Lebih dari sekadar strategi ekonomi, DERNOMICS menjadi refleksi semangat kemandirian bangsa—bahwa di tengah krisis global, Indonesia memiliki kekuatan untuk berdiri di atas kaki sendiri, dengan rakyat sebagai fondasi utamanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







