Womanindonesia.co.id — Peringatan Hari Ibu 2025 dimanfaatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai momentum strategis untuk meneguhkan peran perempuan dalam membangun pendidikan karakter bangsa. Melalui Lokakarya Tematik bertajuk “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045”, BPIP menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi kunci dalam menyiapkan generasi masa depan yang berdaya, beretika, dan berakar pada nilai-nilai Pancasila.
Berbeda dari peringatan Hari Ibu yang bersifat seremonial, lokakarya ini diarahkan sebagai ruang diskusi dan refleksi atas tantangan nyata yang dihadapi bangsa, khususnya dalam pembentukan karakter generasi muda. BPIP memandang perempuan—melalui perannya di keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai aktor utama dalam mentransformasikan nilai Pancasila menjadi praktik hidup sehari-hari.
Kepala BPIP, Prof. Yudian Wahyudi, menegaskan bahwa Pancasila harus hadir secara konkret dalam kehidupan masyarakat, terutama melalui pendidikan dan interaksi sosial yang membentuk karakter generasi penerus bangsa.
“Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata. Pembinaan ideologi Pancasila perlu menyentuh ruang-ruang kehidupan masyarakat, bersifat kontekstual, inklusif, serta menghormati kearifan lokal yang selama ini menjadi perekat komunitas,” ujar Prof. Yudian dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/12).
Ia menambahkan bahwa peringatan Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada simbol penghormatan, tetapi menjadi titik tolak lahirnya gerakan berkelanjutan yang berdampak langsung bagi masa depan bangsa.
“Peringatan Hari Ibu ini harus kita maknai sebagai titik awal langkah nyata, bukan sekadar seremoni. Dengan memperkuat kapasitas perempuan dan menghadirkan Pancasila dalam pendidikan serta kehidupan sosial, kita sedang menyiapkan fondasi kokoh bagi generasi yang berdaya dan beretika menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala BPIP Rima Agristina menyoroti kuatnya peran perempuan dalam proses pembudayaan nilai sejak usia dini. Kedekatan perempuan dengan lingkungan keluarga dan pendidikan menjadikan mereka garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila secara berkelanjutan.
“Perempuan adalah agen perubahan nilai. Melalui peran sebagai pendidik, pengasuh, dan pemimpin komunitas, perempuan mampu menerjemahkan Pancasila ke dalam praktik sehari-hari yang konkret dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tutur Rima.
Melalui lokakarya tematik ini, BPIP mendorong berbagai langkah strategis yang berorientasi pada masa depan, antara lain penguatan kapasitas perempuan, pengembangan modul pembelajaran yang ramah gender dan berbasis budaya lokal, serta penguatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas.
BPIP berharap, inisiatif ini dapat memperkuat kesadaran kolektif bahwa pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi dan teknologi, tetapi juga pada ketangguhan karakter dan nilai kebangsaan. Dengan perempuan sebagai penggerak utama, Pancasila diharapkan semakin hidup dan relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








