Womanindonesia.co.id – Child Grooming adalah proses manipulasi psikologis oleh pelaku untuk mengeksploitasi anak – tren yang kembali disorot setelah viralnya memoir Broken Strings oleh Aurelie Moeremans yang mengungkap pengalamannya sebagai korban grooming. Pelajari tanda, mekanisme, dan cara melindungi anak dari ancaman ini.
Apa itu Child Grooming?
Child grooming adalah proses bertahap di mana seorang dewasa (atau pelaku) membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak dengan tujuan akhirnya mengeksploitasi anak tersebut – seringkali secara seksual, emosional, atau finansial.
Grooming bisa terjadi secara langsung (tatap muka) maupun melalui media digital; pelakunya menggunakan perasaan aman, hadiah, rahasia bersama, atau ancaman untuk melumpuhkan kemampuan korban dan keluarga memahami situasi.
Kisah memoir Broken Strings oleh Aurelie Moeremans yang viral menunjukkan bagaimana tindakan grooming dapat terjadi pada remaja dan meninggalkan trauma jangka panjang menggarisbawahi bahwa korban sering kali tidak segera menyadari telah dimanipulasi.

Mengapa child grooming berbahaya?
Grooming bukan sekadar “rayuan” atau perhatian berlebihan – ia adalah strategi sistematis yang merusak perkembangan psikologis anak, mengikis batas-batas keamanan, dan menciptakan kondisi untuk kekerasan emosional dan seksual.
Literatur ilmiah menunjukkan beragam taktik groomer: dari memberi hadiah, isolasi, sexualisasi bertahap, hingga pemanfaatan teknologi untuk membina kepercayaan dan memfasilitasi kontak fisik. Strategi ini berevolusi sejak era internet, membuat anak lebih rentan melalui ruang obrolan, media sosial, dan pesan pribadi.
Data lapangan dan laporan internasional juga menunjukkan peningkatan insiden eksploitasi seksual online anak hal ini menegaskan perlunya kewaspadaan ekstra di ranah digital. Laporan-laporan global mengindikasikan lonjakan jumlah materi eksploitasi dan insiden yang terkait platform daring.
Tanda-tanda child grooming yang perlu diwaspadai
- Anak tiba-tiba menyembunyikan aktivitas online atau mengganti perangkat komunikasi.
- Perubahan perilaku: menarik diri, kecemasan, gangguan tidur, atau prestasi sekolah menurun.
- Hadiah atau perhatian berlebihan dari orang dewasa yang tidak sepadan dengan hubungan.
- Anak mulai menerima materi seksual atau terlibat dalam percakapan seksual yang membuatnya malu.
- Permintaan menyimpan rahasia atau takut jika rahasia diketahui.
Perspektif kesehatan dan psikologi
Tinjauan scoping dan studi dalam jurnal seperti Child Abuse & Neglect menegaskan bahwa grooming adalah proses multifaset yang memanfaatkan kelemahan – baik psikososial maupun situasional – pada anak dan lingkungan sekitarnya.
Strategi groomer bervariasi pra- dan pasca-internet, tetapi motifnya sama: membangun kontrol dan mengurangi resistensi korban. Intervensi yang paling efektif menurut literatur melibatkan pencegahan berbasis pendidikan, pelatihan orang tua, serta respons hukum dan layanan kesehatan yang terkoordinasi.
UNICEF dan organisasi perlindungan anak internasional menekankan bahwa pencegahan harus meliputi edukasi digital, kebijakan platform teknologi, dan layanan pendukung trauma-informasi bagi korban. Program pencegahan efektif melibatkan sekolah, keluarga, dan pembuat kebijakan.
Langkah praktis melindungi anak dari grooming
- Ajarkan literasi digital: batas privasi, tanda bahaya, dan cara melaporkan perilaku tidak pantas di platform.
- Komunikasi terbuka: ciptakan budaya keluarga di mana anak merasa aman bercerita tanpa takut dimarahi.
- Pantau tanpa menginvasi: terlibatlah dengan dunia online anak – ketahui aplikasi yang mereka gunakan dan aturan penggunaan.
- Laporkan dan cari bantuan profesional: jika ada kecurigaan grooming, segera lapor ke layanan perlindungan anak atau polisi; dukungan psikologis penting untuk pemulihan korban.
Viralnya Broken Strings oleh Aurelie Moeremans membuka percakapan publik yang penting: grooming bukan masalah individu semata, melainkan isu kesehatan masyarakat dan perlindungan anak. Menggabungkan temuan jurnal, kebijakan internasional, dan praktik pencegahan lokal memberi kita peta jalan untuk bertindak – mulai dari edukasi orang tua, kebijakan platform digital, sampai layanan dukungan trauma bagi korban. Bila Anda membaca atau mencurigai tanda grooming, bertindak cepat dan empatik bisa menyelamatkan masa depan seorang anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








