Womanindonesia.co.id – Takjil selalu menjadi primadona setiap bulan Ramadhan. Mulai dari jajanan tradisional hingga dessert modern, permintaannya melonjak drastis dalam waktu yang singkat. Namun di balik peluang besar tersebut, tersimpan tantangan yang tak kecil bagi para pelaku UMKM kuliner. Hal ini dirasakan langsung oleh Najla Bisyir, Owner Bittersweet by Najla, yang kerap dijadikan panutan UMKM kuliner generasi baru.
Menurut Najla, Ramadhan adalah periode paling menantang sekaligus paling menjanjikan dalam setahun. Lonjakan permintaan yang sangat tinggi menuntut kesiapan ekstra, terutama bagi bisnis Takjil yang waktunya sangat terbatas.
Takjil di bulan Ramadhan identik dengan kebutuhan serba cepat. Najla mengungkapkan bahwa di bisnisnya, pesanan bisa meningkat signifikan dalam waktu singkat.
“Ramadhan itu relatable banget sama Bittersweet by Najla. Pesanan naik, waktunya mepet, dan kita cuma punya sekitar satu bulan untuk maksimal,” ujar Najla dalama acara Dairy Champ #RasakanKemenangan di Jakarta, Rabu (11/2).
Karena itu, persiapan menjadi kunci utama. Ia menekankan bahwa timnya sudah mulai melakukan persiapan sejak satu bulan sebelumnya, mulai dari pengaturan dapur, sistem kerja, quality control, hingga pengadaan bahan baku.
“Beli bahan baku itu jangan mepet. Bahkan sebelum harga naik, kami sudah stok lebih dulu. Forecasting itu penting banget,” jelasnya.
Menjaga Konsistensi Rasa di Tengah Banjir Takjil
Saat permintaan Takjil melonjak, tantangan terbesar justru terletak pada konsistensi rasa dan kualitas produk. Najla mengakui, semakin banyak pesanan, semakin besar pula risiko penurunan kualitas jika tidak diantisipasi dengan baik.
“Semakin banyak pesanan, tim juga makin capek. Kalau konsistensi nggak dijaga, rasanya bisa turun. Padahal konsumen maunya cepat dan tetap enak,” katanya.
Karena itu, quality control saat Ramadhan justru harus lebih ketat dibanding hari biasa. Menurut Najla, Ramadhan adalah masa panen bagi banyak pelaku usaha, sehingga kualitas tidak boleh dikompromikan.
Di era digital, bisnis Takjil tidak hanya bersaing di rasa, tetapi juga di ulasan konsumen. Najla menegaskan bahwa rasa adalah faktor utama yang tidak bisa ditawar.
“Rasa itu nomor satu. Orang nggak bisa dibohongi. Sekarang media sosial itu seperti pisau bermata dua bisa cepat banget menaikkan brand, tapi juga bisa menjatuhkan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebaik apa pun lokasi atau strategi promosi, jika rasa mengecewakan, konsumen tidak akan kembali. Sebaliknya, jika rasa konsisten, brand akan menjadi top of mind dan dipercaya dalam jangka panjang.
Memanfaatkan Momentum Takjil untuk Membangun Kepercayaan
Bagi Najla, Ramadhan bukan hanya soal peningkatan penjualan Takjil, tetapi juga momentum membangun kepercayaan konsumen.
“Di saat pesanan lagi banyak, justru di situ kepercayaan bisa dibangun. Kalau kualitas tetap terjaga, konsumen akan balik lagi setelah Ramadhan,” ujarnya.
Ia menekankan beberapa prinsip penting bagi UMKM Takjil agar bisa bertahan dan berkembang:
- Kualitas nomor satu, jangan pernah diturunkan
- Bahan baku jangan sering diganti jika sudah cocok
- Kecepatan pengiriman sangat menentukan kepuasan pelanggan
- Tim yang kompeten dan efisien untuk menjaga operasional tetap stabil
“Manfaatkan momentum Ramadhan sebaik mungkin. Jaga kualitas, jaga kesehatan tim, dan tetap optimis. Insya Allah berkah,” tutup Najla.
Dengan strategi yang matang dan konsistensi kualitas, usaha Takjil bukan hanya bisa panen di bulan Ramadhan, tetapi juga membangun fondasi kepercayaan jangka panjang bagi bisnis kuliner UMKM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








