Womanindonesia.co.id – Tren filler yang dulu sempat booming kini perlahan mengalami penurunan. Banyak masyarakat mulai berpaling akibat maraknya laporan efek samping pasca prosedur, terutama ketika tindakan dilakukan oleh non-profesional medis atau di fasilitas yang tidak memenuhi standar.
Minimnya edukasi menjadi salah satu faktor utama menurunnya kepercayaan publik terhadap treatment tersebut. Tidak sedikit pasien menjalani prosedur tanpa memahami standar keamanan, teknik injeksi yang tepat, hingga jenis bahan yang digunakan.
Kekhawatiran pun semakin berkembang, mulai dari hasil yang terlihat tidak natural atau berlebihan hingga ketakutan terhadap kandungan zat yang dianggap berbahaya dalam produk filler.
Melihat kondisi tersebut, para dokter dari Wijaya Platinum Clinic (WPC) mengambil langkah proaktif untuk menjaga eksistensi dan standar keamanan pengerjaan filler dengan aktif mengikuti kegiatan Cadaver Training.
Cadaver Training merupakan pelatihan medis lanjutan yang menggunakan tubuh manusia yang telah didonasikan untuk kepentingan edukasi dan penelitian. Dalam bidang aesthetic medicine, pelatihan ini memungkinkan dokter mempelajari anatomi wajah secara lebih mendalam dan presisi, termasuk memahami jalur pembuluh darah, struktur jaringan, serta area-area berisiko tinggi.
Dengan pemahaman anatomi yang komprehensif, dokter dapat melakukan tindakan secara lebih aman, terukur, dan meminimalkan potensi komplikasi.
“Dalam dunia estetika, filler bisa menjadi alat yang efektif untuk mencapai penampilan yang diinginkan. Namun, penting untuk memahami semua aspek, baik pro dan kontra, sebelum membuat keputusan,” ungkap dr. Buleun Walladah, Aesthetic Doctor di Wijaya Platinum Clinic dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/3).
Ia menambahkan, bagi dokter Wijaya Platinum Clinic, komitmen tersebut tidak hanya berhenti pada penguasaan teknik, tetapi juga pada pemahaman menyeluruh terhadap biomaterial yang digunakan.
Pemahaman terhadap komposisi, stabilitas, serta profil keamanannya memungkinkan dokter memberikan edukasi yang transparan dan berbasis ilmu kepada pasien.
Salah satu produk yang banyak digunakan dalam praktik estetika adalah EPTQ, dermal filler berbasis hyaluronic acid (HA) yang dikembangkan dengan teknologi pemurnian tinggi untuk menghasilkan viskositas yang stabil serta tingkat kemurnian yang baik.
Karakteristik tersebut memungkinkan filler memiliki konsistensi yang optimal saat diaplikasikan, sehingga membantu dokter mendapatkan hasil yang lebih presisi, halus, dan natural.
dr. Buleun menyampaikan bahwa dalam prosedur filler, pemahaman anatomi wajah dan pemilihan produk yang tepat sangat penting.
“EPTQ memberikan stabilitas yang baik saat aplikasi, namun hasil yang natural tetap bergantung pada teknik dan presisi dokter,” sambungnya.
Oleh karena itu, langkah dokter Wijaya Platinum Clinic untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan Cadaver menjadi bentuk tanggung jawab profesional dalam menjaga standar praktik estetika yang aman dan berkualitas.
Pendekatan berbasis ilmu, teknik yang presisi, serta pemilihan produk yang terstandar menjadi fondasi untuk mengembalikan kepercayaan pasien bahwa prosedur filler, ketika dilakukan oleh tenaga medis kompeten dengan produk yang tepat, dapat memberikan hasil yang natural, optimal, dan tetap mengutamakan keselamatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







