Manfaat kondom bukan hanya untuk mencegah kehamilan, tetapi juga melindungi dari infeksi menular seksual dan meningkatkan rasa aman dalam hubungan intim yang setara dan bertanggung jawab.
Womanindonesia.co.id – Manfaat kondom kerap kali dipahami secara sempit sebagai alat kontrasepsi semata. Padahal, dari sudut pandang medis dan kesehatan relasi, kondom memiliki peran yang jauh lebih luas mulai dari perlindungan terhadap infeksi menular seksual hingga menjadi simbol kepedulian dan tanggung jawab dalam hubungan intim.
Penjelasan ini ditegaskan oleh dr. Erika, Clinical Training Manager DKT Indonesia yang menekankan bahwa kondom adalah satu-satunya alat kontrasepsi yang mampu memberikan perlindungan ganda.
“Kondom adalah satu-satunya alat kesehatan yang dapat mencegah HIV, infeksi menular seksual (IMS), sekaligus kehamilan yang tidak direncanakan,” jelas dr. Erika di Jakarta, Jumat (13/2).
Menurutnya, kondom bukan sekadar alat kontrasepsi, melainkan bagian dari self-care yang melindungi kedua belah pihak dalam hubungan.
Di masyarakat, masih banyak mitos yang berkembang seputar pencegahan kehamilan. Salah satunya adalah metode “keluar di luar” atau withdrawal. “Secara medis, metode ini memiliki tingkat kegagalan yang cukup tinggi, sekitar 18–20 persen,” ungkap dr. Erika.
Artinya, dari lima pasangan yang mengandalkan cara tersebut, satu pasangan tetap berisiko mengalami kehamilan. Lebih jauh lagi, metode ini sama sekali tidak melindungi dari IMS, sehingga risikonya bukan hanya kehamilan, tetapi juga kesehatan jangka panjang.
Manfaat Kondom untuk Kesehatan, Kenikmatan, dan Hubungan yang Setara
Manfaat kondom juga berkembang seiring kemajuan teknologi. Kini, kondom hadir dengan berbagai varian lebih tipis, lebih nyaman, bahkan dirancang untuk meningkatkan sensasi. “Perkembangan teknologi kondom memungkinkan pasangan tetap merasakan kenyamanan dan kepuasan saat berhubungan intim,” lanjut dr. Erika. Dengan kata lain, penggunaan kondom tidak mengurangi keintiman, justru dapat meningkatkan rasa aman dan kepercayaan.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah dimensi relasi dan psikologis, terutama bagi perempuan. Dalam kehidupan nyata, masih banyak perempuan yang berada di bawah tekanan untuk menuruti pasangan, termasuk dalam urusan hubungan intim.
Adelle Wulandari, influencer kesehatan seksual, menyoroti bahwa tekanan ini nyata, dalam hubungan pernikahan. “Banyak perempuan takut memicu konflik rumah tangga, takut soal ekonomi, atau takut pasangannya mencari pelampiasan di luar,” ujarnya.
Namun, keberanian untuk bersikap tegas justru menjadi kunci. “Perempuan yang bilang ‘aku mau kalau pakai kondom’ bukan berarti ribet atau tidak sayang. Justru itu bentuk kepedulian pada diri sendiri dan kualitas hubungan,” tegas Adelle.
Menurutnya, kampanye yang mendorong percakapan setara tentang seks aman sangat relevan untuk membangun relasi yang sehat.
Pesan inilah yang diangkat oleh Sutra melalui kampanye terbarunya, “Mau Kalo Pake Kondom”. Dengan pesan tegas No Condom, No Sex, kampanye ini mendorong normalisasi diskusi soal kondom sebagai bagian yang tak terpisahkan dari momen intim. “Kondom seharusnya bukan pilihan terakhir,” ujar Cut Vellayati, Head of Marketing DKT Indonesia. “Kami ingin kondom menjadi sesuatu yang normal dibicarakan dan tidak bisa ditawar.”
Kampanye ini juga mendapat dukungan dari komedian dan figur publik Pandji Pragiwaksono. “Laki-laki sering mencari alasan agar tidak pakai kondom. Tapi kalau pasangannya tegas, kebanyakan akhirnya nurut,” ujarnya lugas. Menurut Pandji, pilihan paling rasional tetaplah menggunakan kondom dibanding mengambil risiko yang lebih besar.
Pada akhirnya, manfaat kondom tidak hanya soal mencegah kehamilan, tetapi juga tentang perlindungan kesehatan, peningkatan kualitas hubungan, dan penghargaan terhadap diri sendiri serta pasangan. Lewat pesan sederhana namun kuat –no condom, no sex kondom menjadi simbol cinta yang bertanggung jawab, di mana keintiman berjalan seiring dengan rasa aman dan saling menghormati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








