Womanindonesia.co.id – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan salah satu kelainan bawaan paling sering ditemukan pada bayi baru lahir dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas anak bila tidak ditangani secara tepat. Di Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya pada kompleksitas penyakitnya, tetapi juga pada keterlambatan deteksi yang masih tinggi.
Dr. Oktavia Lilyasari, SpJP(K), FIHA, Chairman of Pokja Pediatric & CHD dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menegaskan bahwa lebih dari 60 persen kasus PJB di Indonesia ditemukan dalam kondisi terlambat. Padahal, penyakit ini dapat terjadi sejak bayi, berlanjut hingga dewasa, dan berdampak panjang pada kualitas hidup pasien.
“Sekitar 60,8 persen penyakit jantung bawaan di Indonesia terdeteksi terlambat berdasarkan penelitian periode 2011–2021. Ini menjadi tantangan besar karena PJB bukan hanya masalah anak, tetapi akan berlanjut hingga usia dewasa bila tidak ditangani dengan baik,” ujar dr. Oktavia dalam sesi talk show World CHD Awareness 2026 di SD Negeri Makasar 03 Pagi, Jakarta Timur, Kamis (12/2).
Penyakit Jantung Bawaan dan Gambaran Prevalensinya
Secara global, prevalensi Penyakit Jantung Bawaan berkisar 8–10 per 1.000 kelahiran hidup. Di kawasan Asia Tenggara, angkanya bahkan mencapai 9–10 per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, dari setiap 100 bayi yang lahir, setidaknya satu bayi berisiko mengalami kelainan jantung bawaan.
“Kalau kita pakai angka konservatif 10 per 1.000 kelahiran hidup, berarti dari 100 bayi yang lahir, ada satu yang mengalami penyakit jantung bawaan. Ini angka yang tidak kecil,” jelas Dr. Oktavia.
Sayangnya, di Indonesia sebagian besar kasus baru teridentifikasi ketika anak sudah menunjukkan gejala berat atau komplikasi, sehingga peluang intervensi dini sering terlewatkan.
Penyakit Jantung Bawaan: Penyebab yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Menurut Dr. Oktavia, penyebab Penyakit Jantung Bawaan sangat beragam dan pada sebagian besar kasus bahkan tidak dapat dipastikan secara spesifik.
“Proporsi terbesar penyebab PJB justru tidak diketahui secara pasti. Namun, secara umum ada beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan, yaitu faktor ibu, faktor genetik, dan faktor lingkungan,” paparnya.
Faktor Ibu
Ibu hamil dengan diabetes, penyakit autoimun, atau infeksi tertentu seperti toksoplasma, sitomegalovirus, dan rubella memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan PJB, terutama bila infeksi terjadi pada trimester awal kehamilan. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres berat, serta penggunaan obat-obatan tanpa pengawasan dokter juga dapat meningkatkan risiko, terutama obat yang bersifat teratogenik.
Faktor Genetik
Riwayat keluarga memiliki peran penting.
“Jika orang tua atau saudara kandung memiliki penyakit jantung bawaan, maka risiko pada anak berikutnya meningkat sekitar 1–3 persen,” jelas dr. Oktavia.
Selain itu, kelainan genetik tertentu juga berkontribusi terhadap terjadinya PJB.
Faktor Lingkungan
Paparan polusi, radiasi, hingga kondisi geografis tertentu seperti tinggal di daerah dataran tinggi juga dikaitkan dengan jenis PJB tertentu. “Faktor lingkungan ini sering kali luput diperhatikan, padahal kontribusinya cukup besar,” tambahnya.
Gejala Penyakit Jantung Bawaan dari Bayi hingga Dewasa
Gejala Penyakit Jantung Bawaan sangat bervariasi tergantung usia dan jenis kelainannya. Secara umum, PJB dibagi menjadi dua kelompok besar: PJB sianotik (biru) dan non-sianotik (tidak biru).
Pada bayi, tanda yang perlu diwaspadai antara lain warna kebiruan di sekitar mulut, lidah, atau wajah akibat kurangnya oksigen. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan perubahan bentuk kuku menjadi membulat atau clubbing finger.
“Pada bayi, gejala sering tidak spesifik. Napas menjadi cepat, cuping hidung tampak kembang-kempis, dan terlihat retraksi dada. Bayi juga mudah lelah saat menyusu dan sering terputus-putus,” jelas dr. Oktavia.
Pada anak yang lebih besar, keluhan bisa berupa mudah lelah saat bermain, sering terhenti saat berjalan atau beraktivitas (squatting), serta sering mengalami infeksi paru berulang. Gangguan tumbuh kembang juga menjadi tanda penting yang kerap terabaikan.
Pentingnya Skrining Dini Penyakit Jantung Bawaan
Kesadaran orang tua dan tenaga kesehatan menjadi kunci utama deteksi dini. Anak yang pertumbuhan berat dan tinggi badannya berada di bawah kurva normal atau sering mengalami infeksi berat perlu dicurigai dan diperiksa lebih lanjut.
Dalam upaya meningkatkan deteksi dini, PERKI melalui Pokja Kardiologi Pediatrik menginisiasi program skrining PJB di puluhan kota di Indonesia. Dr. Sefri Noventi Sofia, SpJP(K), FIHA, Chairman of CHD Screening PERKI, menyebutkan bahwa sejak Januari 2023 skrining telah dilakukan di lebih dari 21 kota.
“Dari sekitar 1.900 anak yang disaring, ditemukan lebih dari 40 kasus PJB. Angka ini bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan prevalensi global,” ungkapnya.
Skrining ini sejalan dengan arah kebijakan promotif dan preventif Kementerian Kesehatan, serta membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Peran Teknologi dalam Deteksi Penyakit Jantung Bawaan
Dari sisi industri kesehatan, teknologi berperan besar dalam menunjang akurasi diagnosis. Kristanto Trimoeljo, CEO GE Healthcare Indonesia, menegaskan bahwa echocardiography atau USG jantung merupakan gold standard dalam deteksi PJB.
“Dengan ultrasonografi jantung, dokter dapat melihat struktur dan aliran darah secara detail. Metode ini non-invasif, tanpa radiasi, dan aman untuk anak-anak,” jelasnya.
Teknologi ini memungkinkan dokter menentukan langkah penanganan yang paling tepat sejak dini.
Tata Laksana Penyakit Jantung Bawaan
Penanganan Penyakit Jantung Bawaan sangat bergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Dr. Oktavia menjelaskan bahwa tujuan utama terapi adalah memperbaiki struktur jantung, baik melalui obat-obatan, tindakan minimal invasif, maupun pembedahan.
“Tidak semua PJB memerlukan operasi. Beberapa kelainan sederhana dapat menutup sendiri seiring pertumbuhan anak. Namun, jika berisiko menimbulkan komplikasi, tindakan korektif tetap diperlukan,” ujarnya.
Saat ini, kemajuan teknologi memungkinkan tindakan non-bedah menggunakan kateter untuk menutup lubang jantung, melebarkan katup, atau memasang stent, sehingga mengurangi risiko dan waktu pemulihan.
Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan (PJB): Momentum Deteksi Dini dan Edukasi Nasional
Upaya peningkatan kesadaran terhadap Penyakit Jantung Bawaan (PJB) juga diperkuat melalui momentum global World CHD Awareness Week 2026 yang diperingati setiap 7–14 Februari. Secara global, PJB diperkirakan terjadi pada 8–9 dari 1.000 kelahiran hidup dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak. Fakta ini menegaskan bahwa deteksi dini melalui skrining bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup anak.
Dalam rangka Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan tersebut, PERKI menyelenggarakan program skrining PJB gratis berskala nasional di 27 kota di Indonesia, dengan dukungan dari GE Healthcare Indonesia.
Program ini tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan semata, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai PJB sekaligus menjadi langkah awal pengumpulan data nasional menuju registri Penyakit Jantung Bawaan Indonesia, yang selama ini masih sangat terbatas.
Salah satu rangkaian kegiatan skrining nasional tersebut dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026, bertempat di SD Negeri Makasar 03 Pagi. Kegiatan ini menyasar anak usia sekolah dasar, kelompok usia yang dinilai strategis untuk menemukan kasus PJB yang selama ini luput terdeteksi.
Selain pemeriksaan menggunakan echocardiography sebagai gold standard, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi dan edukasi bagi guru serta orang tua murid mengenai tanda-tanda awal Penyakit Jantung Bawaan, pentingnya pemantauan tumbuh kembang, serta langkah yang perlu dilakukan apabila ditemukan kecurigaan kelainan jantung.
Dr. Sefri sebelumnya menegaskan bahwa hasil skrining menunjukkan temuan yang cukup signifikan dan membuka mata banyak pihak.
“Dari sekitar 1.900 anak yang kami skrining, ditemukan lebih dari 40 kasus Penyakit Jantung Bawaan. Ini menunjukkan bahwa skrining di usia sekolah sangat penting, karena banyak anak tampak sehat namun ternyata memiliki kelainan jantung,” ujarnya.
Menurut dr. Oktavia rangkaian kegiatan dalam Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan ini memiliki nilai strategis jangka panjang.
“Skrining massal ini bukan hanya soal menemukan kasus, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa Penyakit Jantung Bawaan bisa dan harus dideteksi sedini mungkin. Data yang terkumpul nantinya diharapkan menjadi dasar pembentukan registri nasional PJB Indonesia,” jelasnya.
Dengan adanya registri nasional, Indonesia diharapkan dapat memiliki peta masalah Penyakit Jantung Bawaan yang lebih akurat, sehingga kebijakan kesehatan, alokasi sumber daya, dan pengembangan layanan kardiologi anak dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi lintas sektor antara organisasi profesi, industri kesehatan, pemerintah, serta masyarakat, Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan menjadi momentum penting untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, produktif, dan meraih masa depan yang optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







