Perjalanan Sokola dalam Mengedukasi Orang Rimba

WomanIndonesia.co.id – “Setelah bisa baca-tulis, apakah kami bisa mengusir pembalak itu?” demikian pertanyaan murid-murid Butet Manurung pada suatu hari di tahun 2001. Saat itu Butet mengajarkan baca, tulis, hitung kepada mereka, anak-anak dari komunitas adat Orang Rimba yang tinggal di hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Saat mereka belajar, terdengar desing cainshaw mengiringi.

Pengalaman inilah yang menyebabkan Butet berkesimpulan bahwa ilmu baca, tulis, hitung saja tidak cukup bagi Orang Rimba untuk menjaga hutan adat dan kelangsungan hidupnya. Mereka hidup tergantung pada hutan, maka ancaman pada kelestarian hutan adalah ancaman pula bagi kelangsungan hidup mereka.

Dengan kesadaran ini Butet dan empat rekannya mendirikan Sokola Institute pada tahun 2003, lembaga yang fokus pada pendidikan dan masyarakat adat. Sokola kemudian mengembangkan kurikulum yang tujuannya untuk membantu masyarakat adat menghadapi persoalan.

“Kami memulainya di rimba dengan banyak coba-coba dan melakukan kesalahan. Justru dari murid-murid dan komunitaslah kami berguru hingga akhirnya menyempurnakan metode dan pendekatan yang kami gunakan,” ujar Butet pada peluncuran buku “Melawan Setan Bermata Runcing:
Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola” di IPMI International Business School, Jakarta, Rabu (30/10).

Pengalaman selama 2 dekade mengembangkan program pendidikan di komunitas Orang Rimba dan kemudian menjangkau 15 lokasi lain di Indonesia inilah yang menjadi pelajaran penting yang diceritakan oleh buku ini.

Metode Sokola menekankan pada pentingnya menetap (live in) bersama komunitas dalam jangka watu yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun, menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat dan sebisa mungkin mengajar dalam bahasa lokal.

“Interaksi intestif di lapangan dan tempaan dari komunitas serta murid-murid kami, khususya di Sokola Rimba di Jambi pada akhirnya membantu kami merumuskan metode dan pendekatan pendidikan yang ramah budaya dan kontekstual,” kata Butet.

Selain Butet, penulis buku lainnya adalah Aditya Dipta Anindita dan Dodi Rokhdian yang juga merupakan pendiri Sokola, serta Fadilla M. Apristawijaya dan Fawaz yang masing-masing bergabung di Sokola sejak tahun 2005 dan 2008.

Mereka menuliskan pengalaman lapangannya dengan struktur kombinasi antara gaya bercerita (story telling) dan berurutan sesuai dengan metodologi penyelenggaraan program pendidikan Sokola mulai dari melakukan kajian awal hingga pembentukan kader dan pengorganisasian.

Selain itu, buku ini juga berisi mengenai landasan filosofis serta prinsip-prinsip kerja kerelawanan Sokola. “Dengan demikian, kami berharap pengalaman-pengalaman di dalamnya dapat menjadi panduan untuk guru, relawan mengajar, atau siapa saja yang berkerja di komunitas,” lanjut Butet.

Ilustrasi di buku ini dikerjakan oleh Oceu Apristawijaya, yang juga salah satu pendiri Sokola. Pemahamannya mengenai konteks setiap tulisan membuat ilustrasinya tidak hanya menjadi dekorasi saja, namun memperkuat tulisan di dalamnya.

Acara peluncuran buku ini akan menampilkan pula pementasan teater komunitas Panggung Bercerita yang berjudul “Beralas Bumi, Beratap Langit”. Pementasan ini akan menceritakan kisah-kisah kearifan budaya Orang Rimba dengan narator Maudy Koesnaedi.

Sebelumnya, lakon ini juga telah dipentaskan di TVRI pada awal bulan Oktober ini. Menurut Maudy, ketertarikannya kepada budaya Orang Rimba berawal saat ia diminta oleh Sokola untuk menjadi salah satu pembaca narasi mengenai kehebatan budaya masyarakat adat tahun lalu.

Saat itu ia membacakan narasi mengenai makna pohon sentubung dan sengoris yang diberikan kepada setiap bayi yang lahir di rimba. Filosofi kisah tersebut kemudian menginspirasinya untuk membuat pementasan yang mengangkat kearifan budaya Orang Rimba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *