Indeks
Cerita Kita
Saturday, June 6, 2026
No Result
View All Result
  • News
    • Economics & Culture
    • Entertaintment
    • Technology & Otomotive
  • Beauty
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Financial
  • Healthy
    • Activity
    • Food
    • Mood
  • Relationship
    • Dating
    • Married
    • Parenting
    • Sex
  • Review
    • Books
    • Hotel & Resto
    • Movie
    • Travelling
  • Inspirations
    • Profile
    • Story
  • K-POP
  • Event
#Quotes
Home Healthy Activity

Waspada! Rokok Elektrik Berpotensi Menumbuhkan Sel Kanker

Uap yang Tidak Terlihat, Bahaya yang Tidak Terduga

Ditulis oleh Andi Mardana
6 June 2026 wi
in Activity, Healthy
Waspada! Rokok Elektrik Berpotensi Menumbuhkan Sel Kanker_womanindonesia.co.id

Istimewa

76
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Rokok elektrik dan rokok konvensional sama-sama mengandung partikel-partikel halus yang bersifat toksik – menyebabkan iritasi di saluran napas, yang akhirnya dapat menimbulkan penyakit-penyakit saluran napas seperti asma dan penyakit paru kronik bahkan kanker.

Womanindonesia.co.id – Ia tidak berbau. Tidak meninggalkan noda kuning di jari. Asapnya pun bukan asap – hanya uap tipis yang lenyap dalam hitungan detik. Bagi banyak orang, terutama generasi muda, rokok elektrik terasa seperti pilihan yang jauh lebih “bersih” dibandingkan rokok konvensional.

Tapi di balik uap yang tampak tidak berbahaya itu, ada sebuah proses kimiawi yang diam-diam bekerja – dan sains mulai mengungkap apa yang sesungguhnya terhirup setiap kali seseorang menarik napas dari perangkat mungil itu.

Kesimpulannya tidak menyenangkan.

Selama bertahun-tahun, rokok elektrik dipasarkan dan dipersepsikan publik sebagai alternatif yang lebih aman dari rokok konvensional. Tidak ada pembakaran tembakau. Tidak ada tar. Tidak ada ribuan zat kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran.

Narasi itu tidak sepenuhnya salah. Tapi ia juga tidak sepenuhnya benar.

Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), MHPM, FISR, FAPSR, Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sekaligus Direktur RS Persahabatan, meluruskan persepsi ini dalam konferensi pers kampanye #SehatTanpaRokok di Jakarta, Rabu (3/6).

“Rokok elektrik dan rokok konvensional sama-sama mengandung partikel-partikel halus yang bersifat toksik. Baik rokok konvensional yang menghasilkan asap maupun rokok elektrik yang menghasilkan uap – sama-sama membawa partikel halus yang terhirup, yang namanya partikel pintar PM 2,5. PM 2,5 ini menyebabkan iritasi di saluran napas, yang akhirnya dapat menimbulkan penyakit-penyakit saluran napas seperti asma dan penyakit paru kronik,” paparnya.

Tapi bahaya rokok elektrik tidak berhenti di situ. Ada ancaman lain yang jauh lebih dalam dan jauh lebih tersembunyi.

Ketika Logam Berat Ikut Terhirup Melalui Rokok Elektrik

Inilah mekanisme yang paling jarang dipahami publik umum dan paling penting untuk diketahui.

Rokok elektrik bekerja dengan cara memanaskan cairan (liquid) menggunakan elemen pemanas. Elemen pemanas itu terbuat dari logam. Dan ketika logam dipanaskan berulang-ulang dalam suhu tinggi, ia melepaskan partikel-partikel mikroskopis ke dalam cairan yang sedang dipanaskan.

Cairan itu kemudian diuapkan. Dan uap itulah yang dihirup.

“Di dalam mekanisme elektrifikasi itu akan terlepas logam-logam halus. Karena di dalam elektronik itu kan ada komponen logamnya. Terlarut di air, kemudian air ini diuapkan, dan dihiruplahlah logam berat ini setiap hari oleh penggunanya. Dan itu karsinogen. Kalau bertahun-tahun, bisa menyebabkan kanker,” jelas Prof. Agus.

Logam berat yang dimaksud bukan sekadar nama yang asing di buku kimia. Tembaga, nikel, timah, kromium – semua bisa terlepas dari komponen pemanas perangkat rokok elektrik, masuk ke dalam uap, lalu berpindah ke paru-paru penggunanya setiap kali mereka menarik napas.

Dan tidak seperti debu atau polutan udara biasa yang bisa sebagian tersaring oleh mekanisme pertahanan tubuh, partikel halus PM 2,5 berukuran sangat kecil sehingga mampu menembus jauh ke dalam jaringan paru-paru bahkan masuk ke aliran darah dan berdistribusi ke seluruh organ tubuh.

Angka yang Membuat Diam Sejenak

Pernyataan Prof. Agus bukan sekadar teori. Ada data riset yang menopangnya dan angka-angkanya cukup untuk membuat siapa pun berhenti sejenak dan berpikir ulang.

“Buktinya sekarang ini, diriset pada sel paru-paru yang dipajani pada uap rokok elektrik selama setahun, terbukti 23 persen dari kanker baru. 50 persen dari kanker yang sudah ada sebelumnya mengalami perubahan pada penggunanya,” ungkap Prof. Agus.

Dua puluh tiga persen mutasi kanker baru pada sel paru-paru yang terpapar uap rokok elektrik selama satu tahun. Lima puluh persen perubahan pada sel kanker yang sudah ada sebelumnya.

Ini adalah data laboratorium – bukan data dari pasien manusia yang sudah mengalami kanker akibat rokok elektrik. Dan di sinilah letak salah kaprah yang sering terjadi: karena kita belum melihat gelombang besar pasien kanker paru yang secara langsung dikaitkan dengan rokok elektrik, banyak orang menyimpulkan bahwa rokok elektrik aman.

Padahal kesimpulan itu prematur dan berbahaya.

Prof. Agus memberikan konteks yang sangat penting untuk memahami mengapa ancaman ini belum terlihat secara masif.

“Merokok konvensional sudah ada lebih dari 100 tahun. Rokok elektrik itu baru 10 tahun ini. Artinya kebiasaan menggunakan rokok elektrik ini punya potensi terjadinya penyakit mungkin 25 tahun lagi. Sekarang yang baru muncul adalah dampak-dampak jangka pendeknya,” jelasnya.

Ini adalah prinsip dasar onkologi — ilmu tentang kanker. Kanker tidak tumbuh dalam semalam. Ia berkembang dalam diam, selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum akhirnya terdeteksi. Seorang perokok aktif umumnya baru menghadapi kanker paru 20 hingga 30 tahun setelah kebiasaan merokoknya dimulai.

Rokok elektrik baru populer sekitar satu dekade lalu. Artinya, gelombang besar konsekuensinya jika hipotesis ilmiah ini terbukti benar pada skala populasi baru akan terlihat sekitar 10 hingga 15 tahun dari sekarang.

Dan siapa yang paling banyak menggunakan rokok elektrik hari ini? Remaja dan anak muda. Mereka yang mulai menggunakannya di usia 13 atau 15 tahun akan menghadapi konsekuensi itu ketika mereka berusia 30-an. Tepat di puncak usia produktif mereka. Tepat ketika mereka seharusnya membangun karier, membesarkan keluarga, dan berkontribusi penuh bagi masyarakat.

“Kalau kita bilang generasi muda pakai vape sangat menyenangkan, maka akan jadi bom waktu. Penyakitnya sekitar 15 hingga 20 tahun lagi,” tegas Prof. Agus.

Berbeda dari Rokok Konvensional, Tapi Bukan Berarti Lebih Aman

Salah satu klaim yang paling sering digunakan untuk membenarkan rokok elektrik adalah: “Tidak ada tar di dalamnya.” Dan klaim itu secara teknis benar – tar adalah produk pembakaran tembakau, dan rokok elektrik tidak membakar tembakau.

Tapi Prof. Agus mengingatkan bahwa ketiadaan tar tidak berarti ketiadaan karsinogen.

“Di dalam vape memang tidak terdapat tar. Tetapi riset menunjukkan terdapat bahan karsinogen non-tar yang ditemukan pada vape. Padahal profesionalnya bahan karsinogen yang menyebabkan terjadinya kanker juga terdapat. Tar ini tidak ditemukan pada vape, tapi bahan karsinogen lainnya tetap ada. Yang diperoleh dari mana? Dari cairannya dan mekanisme elektrifikasi,” paparnya.

Ini adalah distingsi yang sangat penting. Rokok konvensional mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk tar dan berbagai karsinogen turunan tembakau. Rokok elektrik memiliki profil bahaya yang berbeda tanpa tar, tapi dengan karsinogen dari logam berat dan zat kimia dalam cairan yang dipanaskan. Berbeda bukan berarti lebih aman. Ia hanya berbahaya dengan cara yang berbeda.

Dampak yang Sudah Terlihat Hari Ini

Meski ancaman kanker jangka panjang belum bisa diukur secara penuh, dampak kesehatan jangka pendek dari rokok elektrik sudah mulai terdokumentasi di Indonesia.

Prof. Agus menyebutkan sejumlah kondisi yang sudah ditemukan pada pasien pengguna rokok elektrik: peningkatan kejadian asma, pneumonia yang lebih sering, batuk kronik, sakit tenggorokan yang persisten dan yang paling mengkhawatirkan, sebuah kondisi yang disebut popcorn lung atau paru-paru botol.

“Paru-paru botol atau benang botol yang tidak pernah didapatkan pada pasien perokok konvensional sudah kita temukan pada pengguna vape. Itu sudah sendiri menggunakan vape. Sudah ada beberapa laporan kasus di Indonesia,” ungkapnya.

Popcorn lung adalah kerusakan permanen pada bronkiolus – saluran udara terkecil di paru-paru – yang menyebabkan jaringan paru mengeras dan kehilangan elastisitasnya. Kondisi ini tidak bisa disembuhkan. Dan ia kini mulai ditemukan pada pengguna rokok elektrik muda di Indonesia.

Di tengah semua temuan ilmiah ini, ada ironi yang tidak bisa diabaikan: iklan dan konten rokok elektrik masih jauh lebih mudah ditemukan dan jauh lebih menarik secara visual dibandingkan informasi kesehatan tentang bahayanya.

Remaja yang membuka media sosial hari ini jauh lebih mungkin menemukan konten kreator yang menampilkan rokok elektrik dengan tampilan keren dan rasa yang menggoda, daripada menemukan penjelasan ilmiah tentang logam berat karsinogenik yang ikut terhirup bersama setiap uapnya.

Inilah tantangan terbesar yang dihadapi kampanye kesehatan publik: bukan hanya soal menyebarkan informasi yang benar, tapi soal memastikan informasi itu bisa bersaing – dalam hal daya tarik, jangkauan, dan kecepatan – dengan narasi yang dibangun oleh industri dengan sumber daya yang jauh lebih besar.

Karena pada akhirnya, tidak ada uap yang benar-benar bersih. Dan tidak ada risiko kanker yang cukup kecil untuk diabaikan terutama ketika yang menanggung risikonya adalah anak-anak kita.

Recommended By Editor

Sinergi Guardian, Kenvue, dan Kemenkes Dukung Penurunan Prevalensi Perokok

HFMD Bukan Sekadar Ruam Biasa, Ini yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Terlambat

Stres Finansial Masih Hantui 66% Masyarakat Indonesia, FWD Hadirkan FWD Income Prosperity

Kenali Dermatitis Atopik dan Cara Merawatnya dengan Tepat


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Share30Tweet19Pin7

RELATED ARTICLES

Sinergi Guardian, Kenvue, dan Kemenkes Dukung Penurunan Prevalensi Perokok_womanindonesia.co.id
Activity

Sinergi Guardian, Kenvue, dan Kemenkes Dukung Penurunan Prevalensi Perokok

3 days ago
HFMD Bukan Sekadar Ruam Biasa — Ini yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Terlambat_Womanindonesia.co.id
Activity

HFMD Bukan Sekadar Ruam Biasa, Ini yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Terlambat

7 days ago
Stres Finansial Masih Hantui 66% Masyarakat Indonesia, FWD Hadirkan FWD Income Prosperity_womanindonesia.co.id
Financial

Stres Finansial Masih Hantui 66% Masyarakat Indonesia, FWD Hadirkan FWD Income Prosperity

2 weeks ago
Kenali Dermatitis Atopik dan Cara Merawatnya dengan Tepat_Womanindonesia.co.id
Activity

Kenali Dermatitis Atopik dan Cara Merawatnya dengan Tepat

2 weeks ago
Solusi Tekanan Air Rendah: WizFlo Hand Shower dari American Standard_womanindonesia.co.id
Healthy

Solusi Tekanan Air Rendah: WizFlo Hand Shower dari American Standard

3 weeks ago
Siloam, GKCI, dan RSPON Perluas Akses Penanganan Tumor Otak Tanpa Operasi Terbuka_Womanindonesia.co.id
Activity

Siloam, GKCI, dan RSPON Perluas Akses Penanganan Tumor Otak Tanpa Operasi Terbuka

4 weeks ago

WOMANINDONESIA

Informasi Terkini Untuk Perempuan Indonesia, Mulai Dari Kesehatan, Lifestyle, Keuangan, Fashion, Relationship, Food Review, Hot Issue Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Topik Pilihan

usus makan uang bahan nasi run kerja anak iu kai sehat kesehatan ibu aman erha bar Indonesia os Me sel ikan alam

Informasi

  • About Us
  • Career
  • Media Kit
  • Contact Us
  • Sitemap

Alamat Redaksi

PT. Komunikasi Perkasa Indonesia. Epicentrum Walk Lt. 3 Unit A306-A307 Kawasan Rasuna Epicentrum Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta 12960.

: halo@womanindonesia.co.id
: 0812 8877 7317
: +62 812 8877 7317
: +62 812 8877 7317

BLOGROLL

  • Womenpedia
  • Trend.co.id
  • Create.web.id
  • zonanusantara.com
  • Desa.or.id
  • RedJasa.com
  • School.sch.id
  • SEO.sch.id
  • SLI.sch.id
  • Urbanoir.net
  • YPI.ac.id
  • idkoe.com
  • Privacy Policy
  • Term & Conditions
  • Indeks

© 2021 womanindonesia.co.id - All rights reserved. | DMCA.com Protection Status

No Result
View All Result
  • News
    • Entertaintment
    • Politics
    • Economics & Culture
    • Technology & Otomotive
  • Lifestyle
    • Beauty
    • Fashion
    • Financial
  • Healthy
    • Activity
    • Food
    • Mood
  • Relationship
    • Dating
    • Parenting
    • Married
    • Sex
  • Review
    • Hotel & Resto
    • Books
    • Movie
    • Music
  • Inspirations
    • Profile
    • Story
  • K-POP
  • Motivasi
    • Jiwa Bahagia
  • Quotes
  • Event

© 2021 womanindonesia.co.id - All rights reserved. | DMCA.com Protection Status

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist