Menghadapi krisis ketergantungan tembakau nasional, kampanye #SehatTanpaRokok hadir sebagai langkah nyata lintas sektor dalam melindungi generasi muda dari bahaya rokok.
Womanindonesia.co.id – Ketergantungan tembakau masih menjadi salah satu krisis kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia yang membawa dampak serius secara sosial dan ekonomi. Dampak fatal dari rokok tidak hanya mengancam perokok aktif, melainkan sangat membahayakan kelompok rentan yang terpapar sebagai perokok pasif (second-hand smoker) dan perokok ketiga (mereka yang menghirup residu racun rokok yang menempel pada pakaian, kulit, hingga perabotan rumah). Di Indonesia, tantangan ini kian kompleks dengan jumlah perokok aktif yang kini telah menembus angka 70 juta orang, di mana 7,4% di antaranya berusia 10-18 tahun.
Ancaman ini kian nyata bagi anak-anak yang hidup bersama orang tua perokok. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, pneumonia memicu 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun secara global setiap tahunnya, dan anak-anak yang berada di lingkungan orang tua perokok memiliki kerentanan jauh lebih tinggi untuk terkena pneumonia akibat asap rokok.
Krisis ini turut diperparah oleh lonjakan penggunaan rokok elektrik (vape) di kalangan remaja yang meningkat pesat hingga 10 kali lipat, dari 0,3% menjadi 3%. Realita yang ada mendorong lahirnya kampanye nasional #SehatTanpaRokok yang merupakan inisiatif lanjutan dari Program Upaya Berhenti Merokok untuk Indonesia Sehat yang diamanatkan Undang-Undang No.17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Besarnya tantangan ini membuktikan bahwa keberhasilan kampanye nasional tersebut memerlukan titik akses yang lebih dekat dan familiar dengan keseharian masyarakat guna melengkapi fasilitas medis formal.
Menjawab kebutuhan ini, Guardian Indonesia mengambil peran aktif untuk mengamplifikasi kampanye #SehatTanpaRokok ke tingkat komunitas dengan menyediakan ruang edukasi yang inklusif serta memfasilitasi akses solusi kesehatan yang aman bagi masyarakat.
Sebagai jaringan ritel kesehatan yang telah mendampingi masyarakat melalui lebih dari 350 toko di 90 kota, Guardian secara konsisten berkontribusi menjadi mitra kesehatan terpercaya dengan menjangkau hampir 27.000 masyarakat lewat cek kesehatan gratis, serta mendukung sanitasi 50.000 anak melalui Guardiancares.
Bertepatan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjalin kolaborasi strategis dengan Kenvue, Guardian Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sinergi ini diwujudkan melalui kampanye nasional sekaligus penyelenggaraan Workshop Upaya Berhenti Merokok bagi tenaga kesehatan guna menekan prevalensi perokok dari hulu ke hilir.
Melalui kolaborasi nasional ini, Guardian Indonesia memperluas komitmennya dengan mengerahkan para apoteker di garda depan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menyediakan edukasi Upaya Berhenti Merokok (UBM) serta mempermudah akses solusi Terapi Pengganti Nikotin (NRT) langsung di tengah masyarakat.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menyampaikan, akselerasi penurunan prevalensi perokok di Indonesia merupakan agenda krusial yang membutuhkan komitmen kolektif dari seluruh lintas sektor. Tantangan kesehatan dan beban ekonomi akibat ketergantungan tembakau ini terlalu besar untuk dihadapi oleh pemerintah sendiri.
“Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi sinergi strategis dalam kampanye #SehatTanpaRokok ini. Dengan mengintegrasikan edukasi publik yang masif, penguatan kapasitas tenaga medis di Puskesmas, serta penyediaan akses solusi Terapi Pengganti Nikotin (NRT) yang aman dan berstandar medis, kita bersama-sama membangun ekosistem pendukung yang kuat untuk membantu masyarakat terlepas dari jerat adiksi rokok demi masa depan Indonesia yang lebih sehat,” terangnya di Jakarta, Rabu (3/6).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menegaskan pentingnya kolaborasi komprehensif dalam menekan angka perokok. Pemerintah secara konsisten memperkuat langkah pengendalian tembakau, mulai dari regulasi hingga penguatan layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang kini terintegrasi di fasilitas kesehatan primer tingkat Puskesmas. Namun, besarnya tantangan ini menuntut intervensi holistik.
“Melalui kampanye #SehatTanpaRokok, kami menggandeng sektor swasta dan organisasi profesi medis untuk memastikan masyarakat tidak hanya menerima edukasi bahaya merokok, tetapi juga mendapatkan akses terhadap pendampingan klinis dan farmakoterapi yang tepat. Sinergi ini adalah wujud nyata upaya negara dalam menurunkan beban penyakit tidak menular di Indonesia,” kata dr. Nadia.
Dari sisi pengawasan keamanan produk, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, dr. William Adi Teja, MD., BMed., MMed., menyoroti pentingnya standarisasi dalam penanganan adiksi. Perlindungan konsumen adalah prioritas mutlak. Dalam konteks pengendalian zat adiktif, kehadiran produk terapi yang berstandar medis dan memiliki izin edar resmi dari BPOM memberikan kepastian keamanan bagi masyarakat yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan.
“Kami berkomitmen untuk terus mengawal edukasi masyarakat agar menggunakan produk terapi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” kata dr. William.
Penanganan ketergantungan nikotin tidak bisa hanya mengandalkan kemauan atau niat pasien semata, melainkan membutuhkan intervensi klinis yang terukur.
Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., MHPM., FISR., FAPSR, Penasihat Pengurus Pusat PDPI, memaparkan, Dampak medis dari rokok konvensional maupun rokok elektrik sangat fatal, menjadi penyumbang utama angka Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan kanker paru.
“Hambatan terbesar pasien untuk berhenti merokok adalah gejala putus nikotin (withdrawal). Solusi berbasis bukti seperti Terapi Pengganti Nikotin (NRT) telah terbukti secara klinis meredakan gejala sakau dan melipatgandakan peluang keberhasilan berhenti merokok, terutama bila dipadukan dengan konseling perilaku dari tenaga medis,” terangnya.
Menyambung urgensi penanganan adiksi secara medis, dr. Tirta Mandira Hudhi, praktisi kesehatan sekaligus mantan perokok, turut membagikan realita di lapangan. Sebagai seorang dokter dan mantan perokok berat selama belasan tahun, ia merasakan langsung betapa nyatanya jerat adiksi nikotin. Titik balik dr. Tirta untuk berhenti adalah ketika ia menyadari penurunan kualitas kesehatan fisik secara drastis, sekaligus kesadaran akan tanggung jawab moral saya sebagai tenaga medis. Berhenti merokok, kata ia memang butuh tekad, tetapi seringkali niat saja kalah oleh withdrawal syndrome. Karena itu, ia sangat mengapresiasi kampanye #SehatTanpaRokok ini.
“Perokok butuh solusi terukur, bukan sekadar imbauan. Kombinasi antara niat yang kuat dari dalam diri dan bantuan metode ilmiah terbukti dapat meningkatkan tingkat keberhasilan untuk berhenti. Saat ini, masyarakat dapat memanfaatkan alat bantu seperti Nicotine Replacement Therapy (NRT) untuk meredakan gejala putus zat. Kehadiran pendampingan klinis dan intervensi farmakoterapi ini memfasilitasi proses berhenti merokok secara medis dan nyata,” ucap dr. Tirta.
Sebagai penyedia Nicorette®, solusi NRT pertama dan satu-satunya yang berstatus farmakoterapi resmi di Indonesia, Kenvue mengambil peran aktif dalam mendukung ekosistem kesehatan ini.
Marketing Director Kenvue Indonesia Fika Yolanda, menyatakan, Kenvue memiliki komitmen berkesinambungan untuk mendukung program Kemenkes RI dalam mengintervensi prevalensi perokok di Indonesia. Tujuan utamanya adalah memastikan setiap individu yang memiliki niat untuk berhenti merokok mendapatkan pendampingan yang tepat serta akses terhadap solusi medis yang terbukti secara ilmiah. Rangkaian program kampanye kami tidak sekadar pemberian pelatihan (training) medis, melainkan mencakup edukasi komprehensif bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas, serta penayangan Iklan Layanan Masyarakat (PSA) bersama Kemenkes dan PDPI.
“Kami juga membuka kemudahan akses produk melalui kerja sama dengan jaringan apotek Guardian. Kami bangga melihat bahwa saat ini, Nicorette® telah dipercaya dan mulai digunakan sebagai metode terapi di sejumlah klinik UBM Puskesmas di area Jakarta dan Bogor,” kata Fika.
Sebagai implementasi konkret dari kampanye ini, rangkaian acara dilanjutkan dengan Workshop Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang melibatkan 150 tenaga kesehatan profesional. Peserta terdiri dari 100 konselor Klinik UBM dari berbagai Puskesmas di bawah Dinas Kesehatan, serta 50 apoteker dan staf lapangan dari Guardian.
Kurikulum pelatihan ini dirancang secara komprehensif, mencakup kebijakan pedoman UBM di Indonesia, aspek medis dampak rokok, pendekatan kombinasi farmakoterapi dan non-farmakoterapi, hingga teknik wawancara motivasional yang empatik dalam menangani pasien dengan adiksi nikotin.
Commercial Director Guardian Indonesia, Karlina Elisabet Wirian, menambahkan, sebagai jaringan ritel kesehatan yang hadir dekat dengan masyarakat, Guardian berkomitmen mendukung penerapan gaya hidup sehat melalui akses terhadap edukasi dan pendampingan kesehatan yang terpercaya.
“Melalui peran ratusan apoteker dan tenaga vokasi farmasi Guardian sebagai garda terdepan yang terus aktif memberikan edukasi mengenai UBM, kami meyakini bahwa akses terhadap informasi yang akurat serta pendampingan yang tepat dapat membantu masyarakat lebih percaya diri dalam memulai perjalanan berhenti merokok. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen Guardian untuk membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan terpercaya mengenai metode UBM serta mengakses dukungan farmakoterapi yang dibutuhkan secara aman,” jelas Karlina.
Melalui kolaborasi lintas disiplin antara regulator, ahli medis, penyedia layanan kesehatan publik, dan sektor industri ini, kampanye #SehatTanpaRokok diharapkan dapat mengubah lanskap penanganan ketergantungan tembakau di Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat infrastruktur layanan UBM yang ada, tetapi juga memastikan setiap lapisan masyarakat mendapatkan dukungan nyata untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik, produktif, dan terbebas dari bahaya rokok
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







