Bakteri usus ternyata bukan sekadar penghuni diam-diam di dalam perutmu. Mereka mengatur metabolisme, menjaga imunitas, bahkan menentukan seberapa bahagia perasaanmu hari ini. Sudah saatnya kita mulai serius menjaga kesehatan dari dalam.
Womanindonesia.co.id – Pernahkah kamu merasa perut tidak nyaman saat stres berat menjelang ujian atau presentasi penting? Atau sebaliknya, tiba-tiba kehilangan nafsu makan ketika pikiran sedang kacau? Bukan kebetulan. Ada percakapan dua arah yang terus-menerus terjadi antara usus dan otak kita – dan kuncinya ada pada bakteri yang hidup di dalam saluran cerna kita atau biasa disebut mikrobioma.
Di tengah meningkatnya kasus obesitas, diabetes, hipertensi, dan berbagai penyakit metabolik di Indonesia, kesadaran akan pentingnya kesehatan usus menjadi semakin relevan. Namun sayangnya, masih banyak dari kita yang baru bergerak ketika sudah jatuh sakit – bukan sebelumnya.
Usus Adalah Pusat Kendali Metabolik
Dr Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, ahli gizi menegaskan bahwa peran usus jauh lebih besar dari yang selama ini kita bayangkan.
“Kesehatan pencernaan tidak berdiri sendiri. Kondisi usus yang sehat sangat memengaruhi metabolisme, sistem imun, hingga fungsi kognitif melalui mekanisme gut-brain axis,” jelas Rita di Jakarta Rabu (6/5).
Menurutnya, usus adalah pusat kendali metabolik tubuh. Setiap makanan yang masuk ke mulut akan melewati saluran cerna sebelum diserap ke dalam aliran darah. Di sinilah usus berperan besar: menentukan apa yang boleh diserap, berapa banyak, dan bagaimana respons tubuh terhadap nutrisi yang masuk.
Bayangkan kamu minum teh manis atau makan roti isi coklat. Secara logika, kadar gula darah akan naik. Tapi mengapa ada orang yang kenaikannya tidak terlalu signifikan meski makan makanan yang sama? Jawabannya ada pada kesehatan ususnya.
“Kalau pencernaan itu sehat, dia bisa membuat insulin untuk mengatur gula darah lebih sensitif – lebih mampu untuk segera menurunkan dan menyampaikan ke otot untuk menyerap kelebihan gula,” ungkap Rita.
Sebaliknya, jika usus tidak sehat, pengaturan hormon insulin, leptin (pengatur rasa kenyang), hingga ghrelin (pengatur rasa lapar) pun bisa terganggu. Akibatnya? Berat badan susah dikendalikan, energi mudah anjlok, dan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit metabolik.
Mengenal Gut-Brain Axis: Obrolan Rahasia Usus dan Otak
Salah satu temuan ilmiah yang paling mengejutkan adalah gut-brain axis – sistem komunikasi dua arah antara usus dan otak yang bekerja tanpa henti.
Rita menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami: hormon serotonin, yang kita kenal sebagai “hormon bahagia,” ternyata sebagian besar diproduksi di usus – bukan di otak.
“Serotonin yang diproduksi di usus itu berjumlah 70-80% dari seluruh serotonin kita. Usus dulu yang produksi, baru dikomunikasikan dengan otak untuk menyempurnakan — maka kita merasakan bahagia,” paparnya.
Ini juga menjelaskan mengapa orang dengan pencernaan yang terganggu sering merasa tidak bersemangat, sulit berkonsentrasi, bahkan mudah merasa tidak bahagia. Lebih jauh, Rita menyebut bahwa orang dengan saluran cerna yang sehat memiliki risiko lebih rendah terhadap demensia dan Alzheimer, karena mikrobiota usus turut membantu melindungi saraf-saraf otak dari kerusakan akibat radikal bebas.
Bifidobacterium Bifidum: Si Bos Kecil yang Punya Peran Besar
Di antara sekian banyak bakteri baik (probiotik) yang dikenal masyarakat, ada satu yang perannya sangat istimewa namun jarang disebut: Bifidobacterium bifidum.
Dokter Rita menjelaskan bahwa bakteri inilah yang pertama kali “dititipkan” ke dalam usus bayi yang baru lahir. “Bifidobacterium bifidum adalah bakteri pertama kali yang terdeteksi pada usus bayi. Dia yang mendidik mikrobiota berikutnya,” ujarnya.
Keistimewaan bakteri ini terletak pada kemampuannya melekat kuat pada dinding usus -:membuatnya mampu mengatur proses penyerapan nutrisi secara lebih presisi. Selain itu, Bifidobacterium bifidum juga memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa dengan organ-organ lain dalam tubuh, termasuk otak.
“Kalau ingin memperbaiki kesehatan pencernaan kita, maka Bifidobacterium bifidum ini harus ada. Dia adalah ‘bosnya’ — tanpa dia, bakteri lain yang beragam pun bisa kacau,” tegas Rita dengan analogi yang mudah dicerna.
Solusi Berbasis Sains dengan Sentuhan Lokal
Menjawab kebutuhan akan solusi kesehatan usus yang praktis dan berbasis riset, Amway Indonesia menghadirkan Nutrilite Gut — minuman probiotik yang mengandung 5 strain probiotik dengan hingga 23 miliar bakteri baik (CFU) per sajian, diperkuat teknologi 99% nitrogen-filled untuk menjaga stabilitas probiotik hingga 6 bulan masa simpan.
Yang membuat produk ini semakin istimewa adalah kandungan coffee cherry extract dari perkebunan bersertifikasi Nutricert di Aceh – bahan lokal yang terbukti mendukung fungsi otak sekaligus mencerminkan kebanggaan terhadap kekayaan alam Indonesia.
Arjuna Sitorus, Nutrition & Wellness Brand Manager Amway Indonesia, menjelaskan bahwa produk ini lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini.
“Nutrilite Gut dirancang sebagai solusi praktis dengan manfaat ganda – tidak hanya mendukung pencernaan, tetapi juga membantu menjaga fokus dan performa otak. Formulanya menggabungkan pendekatan sains Nutrilite dengan bahan berkualitas, termasuk coffee cherry extract dari Aceh, sehingga produk ini memiliki kekuatan dari sisi manfaat sekaligus cerita lokal yang membanggakan,” jelas Arjuna.
Bagi Amway, bahan lokal dari Aceh ini bukan sekadar bagian dari formulasi produk. Ini adalah wujud nyata komitmen untuk menghadirkan inovasi nutrisi yang terhubung dengan keberlanjutan dan potensi alam Indonesia.
Amway Ajak Indonesia Hidup Preventif
M. Rizal Arnex, General Manager Amway Indonesia, menegaskan bahwa kehadiran Nutrilite Gut bukan sekadar peluncuran produk biasa. “Bagi Amway, kesehatan bukan hanya tentang produk, tetapi tentang bagaimana kita membantu masyarakat memahami tubuhnya, membangun kebiasaan yang lebih baik, dan mengambil langkah preventif sejak dini,” ujar Rizal.
Selama 2025, Amway telah melakukan lebih dari 35.000 screening mandiri kesehatan metabolik di 14 titik Amway Store, mencakup pengukuran gula darah, kolesterol, asam urat, tekanan darah, hingga kesehatan tulang. Edukasi juga diperluas ke kampus-kampus seperti Universitas Sumatera Utara dan Universitas Trilogi, menyasar generasi muda agar membangun kebiasaan sehat sejak dini.
Mulai Sekarang, Jangan Tunggu Sakit
Pesan yang paling kuat dari seluruh diskusi ini sederhana: jangan tunggu sakit baru bertindak. “Preventive health is no longer a choice. Yang namanya reactive health, menurut saya sudah terlambat,” tegas Rizal.
Diabetes, misalnya, adalah salah satu penyakit yang sering baru disadari ketika sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa sepenuhnya disembuhkan. Artinya, kita harus berdamai dengannya seumur hidup. Mulai dari memperbaiki pola makan, cukup tidur, aktif bergerak, hingga memastikan kesehatan usus terjaga – semua adalah langkah kecil yang jika dilakukan konsisten, akan membawa perubahan besar jangka panjang.
Karena seperti yang dikatakan Rizal “Kami percaya masa depan kesehatan Indonesia harus dibangun melalui gerakan preventif – masyarakat yang lebih sadar, lebih teredukasi, dan lebih berani memulai perubahan dari kebiasaan sehari-hari.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







