Womanindonesia.co.id – Gaya hidup modern seperti konsumsi makanan ultra-proses tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik (sedentary lifestyle), kurang tidur yang mengganggu hormon lapar, serta stres kronis yang meningkatkan hormon kortisol dan memicu makan emosional, menjadi faktor utama meningkatnya angka obesitas di Indonesia setiap tahun.
Pola hidup yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memicu adaptasi metabolik, di mana metabolisme tubuh melambat dan berat badan baru dianggap sebagai kondisi normal. Akibatnya, proses penurunan berat badan menjadi semakin sulit, dan kenaikan berat badan pun kian sulit dikendalikan.
Karena itu, penderita obesitas tidak cukup hanya “mengatur pola makan”, tetapi perlu melakukan reset pola makan melalui program weight management yang terstruktur. Pada kondisi tertentu, operasi bariatrik dapat menjadi pilihan, terutama ketika risiko mempertahankan obesitas lebih besar dibandingkan risiko tindakan operasi.
“Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik. Prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori, serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya. Ada beberapa kriteria minimum BMI sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien yang dapat terbantu melalui operasi bariatrik, di antaranya pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30; dan tanpa komorbid dengan BMI di atas 35,” ujar dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS, Dokter Spesialis Bedah Digestif yang menangani bedah bariatrik di LIGHThouse Advanced Clinic dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/5).
Namun, perlu dipahami bahwa operasi bariatrik bukanlah “jalan pintas”. Pasien harus beradaptasi dengan pola makan baru akibat perubahan ukuran lambung. Oleh karena itu, pendampingan nutrisi serta pemenuhan kebutuhan suplemen menjadi sangat penting, terutama pada masa pascaoperasi.
“Sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien berubah secara signifikan, terutama pada masa setelah operasi yang sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya. Fokus kami tidak hanya memastikan kecukupan cairan dan protein, tetapi juga mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan. Kami juga memberikan edukasi komprehensif terkait penyesuaian pola makan, karena meskipun ukuran lambung lebih kecil, tantangan, godaan, dan keinginan tetap ada. Oleh karena itu, pasien bariatrik memerlukan pendampingan berkelanjutan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang,” ujar Veronica, S.Gz., ahli gizi sekaligus Program Manager dari LIGHT Group.
Selain aspek fisik dan nutrisi, tantangan psikologis juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Perubahan drastis dan permanen pada tubuh dapat memengaruhi kondisi mental pasien. Berdasarkan publikasi di PubMed, sekitar 15% pasien bariatrik mengalami depresi akibat perubahan hormonal dan metabolik. Oleh karena itu, skrining psikologis sebelum operasi serta pendampingan setelahnya sangat dianjurkan.
“Bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustrasi akan dihadapi pasien. Karena itu, pendampingan psikolog dibutuhkan agar pasien dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan serta menyesuaikan pola hidup dan pola pikir baru dengan lebih efektif,” ujar Tara de Thouars, Psikolog Klinis dari LIGHThouse Clinic.
Menjawab kebutuhan tersebut, LIGHT Group menghadirkan LIGHT Companion Program, sebuah program pendampingan komprehensif yang tidak hanya ditujukan bagi pasien bariatrik, tetapi juga bagi pasien yang menjalani prosedur liposuction Ultrasound Fat Removal (ULFRA).
Program ini hadir sebagai respons atas kebutuhan pemulihan pascatindakan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek nutrisi dan psikologis. Prosedur liposuction sendiri efektif mengangkat lemak subkutan yang telah terakumulasi dalam jangka waktu lama. Namun, tanpa perubahan pola makan dan gaya hidup yang berkelanjutan, risiko penumpukan lemak kembali tetap ada.
Melalui pendekatan holistik, LIGHT Companion Program berfokus pada edukasi serta perubahan perilaku (lifestyle shifting), guna membantu pasien mempertahankan hasil tindakan, mencapai penurunan berat badan optimal, serta membangun kebiasaan hidup sehat dalam jangka panjang.
“Sebagai pionir dalam pengelolaan berat badan dengan pengalaman lebih dari 22 tahun dalam menangani pasien obesitas, kami berkomitmen menghadirkan solusi yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Di LIGHThouse Advanced Clinic, kami memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan menyeluruh, mulai dari pre-surgical nutrition hingga post-surgical nutrition, guna membantu proses adaptasi terhadap pola makan baru secara optimal. Pendekatan ini juga dilengkapi dengan pendampingan psikologis untuk mengatasi kecemasan serta membangun pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Anna Wibowo, CMO LIGHT Group.
Melalui pendekatan ini, LIGHT Companion Program mencakup pendampingan intensif berupa konsultasi dengan tenaga ahli, seperti dokter spesialis, ahli gizi, psikolog, serta treatment shaping pascaoperasi. Informasi lebih lanjut mengenai layanan dan konsultasi dapat diakses melalui kanal resmi LIGHThouse Advanced Clinic atau akun Instagram @lighthouse_advanced.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








