Tangani Depresi, Jangan Sampai Berakhir Bunuh Diri

WomanIndonesia.co.di – Bulan September diperingati sebagai Hari Kesadaran Bunuh Diri. World Health Oganization (WHO) mengatakan, setiap 40 detik, satu orang bunuh diri di seluruh dunia. Menurut organisasi kesehatan dunia ini, bunuh diri sudah menjadi fenomena global.

Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development, Korea Selatan merupakan negara dengan jumlah kasus bunuh diri tertinggi di dunia. Indonesia sendiri berada di urutan 159.

Artinya, kasus bunuh diri di Indonesia cukup rendah. Namun, kasus depresi dan gangguan psikologis pada umumnya semakin meningkat, termasuk di Indonesia. Depresi bisa menjadi pemicu tindakan bunuh diri

Menurut dr. A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, Sp.KJ (K), dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSCM, depresi adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan mood atau alam perasaan.

Penurunan mood yang dialami penderita depresi sangat bermakna, hingga menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan dalam beraktivitas.

“Gejala klinisnya tidak hanya penurunan mood, tetapi akan diikuti dengan penurunan kemampuan berpikir. Proses pikirnya melambat, tidak bisa berkonsentrasi, pesimis, semua situasi dipandang dari sudut negatif,” jelas dr. A. A. Ayu Agung Kusumawardhani saat wawancara khusus dengan GueSehat baru-baru ini.

Penyebab depresi bisa karena faktor biologis, faktor eksternal, atau keduanya. Faktor biologis berarti ada masalah di dalam regulasi neurohormon, berupa ketidakseimbangan hormon serotonin di dalam otak.

Hormon serotonin adalah hormon yang mengatur perasaan senang. Pada umumnya, penderita depresi mengalami penurunan kadar serotonin di otaknya.

Sementara itu, faktor eksternal disebabkan oleh lingkungan atau situasi luar yang menyebabkan seseorang merasa putus asa.

“Namun, kalaupun faktor eksternal menjadi penyebab utama depresi berat, itu biasanya memang sudah ada faktor biologisnya,” jelas dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Kaitan Depresi dan Bunuh Diri

Pikiran bunuh diri dan menyakiti diri sendiri merupakan komplikasi depresi berat yang perlu diwaspadai. Pada umumnya, pikiran bunuh diri muncul ketika penderita depresi sudah putus asa, dan berpikir mengakhiri hidup merupakan solusi tepat.

“Ini harus selalu kita deteksi pada pasien. Begitu dia ada ide atau pikiran untuk mati saja, ini sudah kita kategorikan sebagai depresi berat,” jelas dr. Agung.

Sementara itu tindakan menyakiti diri sendiri (self harm) sedikit berbeda. Pada orang yang memiliki gangguan psikologis, self harm dilakukan bukan untuk tujuan mati, melainkan sebagai dorongan impulsif akibat rasa hampa yang dialami.

“Karena kok kayaknya enggak enak ya rasanya kesepian dan kosong. Mereka menyilet itu hanya untuk mengecek, ‘oh ternyata ada rasa ya, ternyata sakit ya’.” jelas dr. Agung.

Self harm juga kerap kali terjadi pada gangguan psikologis lainnya, seperti personality disorder atau gangguan kepribadian.

Self harm dan pikiran bunuh diri sangatlah berbahaya. Bunuh diri khususnya dianggap sebagai komplikasi dari depresi. Jadi, kalau ada orang di sekitar kita yang mengatakan akan bunuh diri, jangan diremehkan.

“Kalau ada pikiran bunuh diri, jangan pernah diabaikan. Kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan mengambil action-nya. Harus dianggap serius,” tegasnya.

Menurut dr. Agung banyak juga penderita depresi yang ingin melakukan bunuh diri dan sudah memperlihatkan tanda-tanda sebelumnya. Mereka sudah mengungkapkan niatnya tersebut, tetapi orang lain tidak memedulikannya, sehingga akhirnya mereka melakukannya.

Depresi dan Stigma Negatif di Masyarakat

Depresi bisa diobati dengan berbagai terapi. Tidak hanya dengan obat-obatan, tetapi juga dengan pendekatan psikoterapi. Penderita depresi dilatih memperbaiki konsep pikir dan memecahkan masalah.

Beban penderita depresi di Indonesia semakin berat karena masih adanya stigma negatif. “Banyak yang menganggap, orang depresi ini hanya kurang iman saja, atau ini karena enggak bersyukur,” ujar dr. Agung.

Anggapan ini salah. Seperti dijelaskan sebelumnya, depresi dan bunuh diri terkait erat dengan gangguan hormon di otak. Tidak berkaitan dengan keimanan.

Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi pemerintah untuk lebih peduli dan menyosialisasikan tentang kesehatan mental kepada masyarakat.

Menurut dr. Agung, untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat, diperlukan kerja sama dari tokoh-tokoh dan orang-orang penting dari semua sektor, termasuk memperbanyak fasilitas kesehatan untuk orang yang mengalami gangguan psikologis.

“Contohnya saja, sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memiliki nomor hotline untuk pencegahan bunuh diri. Namun, karena pengelolaannya tidak maksimal, fasilitas ini ditiadakan, ujar dr. Agung menyayangkan.

Sementara itu, dr. Lahargo Kembaren Sp. KJ dari PDSKJI mengungkapkan bahwa diperlukan peningkatan layanan kesehatan jiwa masyarakat dengan infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai.

“Pemerintah juga perlu melengkapi penyediaan obat-obatan dan terapi yang merata di seluruh daerah,” jelasnya.

Untuk mengurangi peningkatan kasus depresi dan bunuh diri, mulailah dari diri sendiri. Jika ada orang terdekat atau orang di sekitar yang menunjukkan gejala depresi, berikan perhatian. Minta ia untuk menjalani pemeriksaan ke ahlinya. Jangan sekali-kali abaikan atau meremehkan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *