Womanindonesia.co.id – Ada sesuatu yang bergeser dalam cara masyarakat Indonesia memandang kemewahan. Tas branded bukan lagi sekadar simbol status yang disimpan di lemari. Jam tangan vintage bukan sekadar warisan keluarga yang terlupakan. Koleksi seni bukan monopoli galeri eksklusif berdinding putih yang terasa dingin dan berjarak.
Kemewahan, perlahan tapi pasti, sedang berubah menjadi sebuah gaya hidup dan lebih dari itu, menjadi sebuah komunitas.
THE COLLECTORS CLUB hadir tepat di momen pergeseran itu.
Satu Ruang, Ribuan Cerita di Balik Setiap Koleksi
Mulai 27 hingga 31 Mei 2026, Main Atrium PIK Avenue berubah menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di Jakarta: sebuah luxury playground — tempat di mana pre-loved Hermès berdampingan dengan jam tangan vintage, di mana art installation dari Museum of Toys menyapa pengunjung yang datang bukan hanya untuk berbelanja, tapi untuk merasakan sesuatu.

Ini bukan pameran barang mewah biasa. Ini adalah ruang kurasi – tempat di mana setiap sudut dirancang untuk menceritakan kisah tentang selera, identitas, dan passion yang melampaui harga.
Penyelenggara THE COLLECTORS CLUB menegaskan visi di balik event ini:
“THE COLLECTORS CLUB hadir sebagai destinasi baru bagi komunitas luxury dan collectible items di Indonesia dengan menghadirkan perpaduan antara shopping experience, art, culture, dan lifestyle dalam satu ruang yang curated dan eksklusif. Dengan harga yang best deal pastinya.”
Kalimat terakhir itu penting karena di sinilah THE COLLECTORS CLUB bermain di wilayah yang selama ini terasa paradoks: luxury yang accessible.
Luxury yang Tidak Lagi Menakutkan
Selama ini, dunia koleksi barang mewah terasa seperti klub tertutup masuk hanya jika Anda tahu orang yang tepat, atau punya rekening yang cukup tebal. THE COLLECTORS CLUB menantang asumsi itu.
Cashback hingga Rp100 juta untuk transaksi menggunakan Kartu Kredit Bank Mandiri, cicilan 0% hingga 12 bulan, hingga program Shop & Win di mana setiap kelipatan belanja Rp1 juta membuka peluang memenangkan luxury items senilai hingga Rp50 juta – mulai dari Bear Brick, tas Hermès, aksesori Christian Dior, hingga cincin berlian.
Bukan diskon murahan. Ini strategi cerdas yang membuka pintu tanpa menurunkan standar.
Dari Opening Party hingga Workshop: Ini Tentang Pengalaman, Bukan Transaksi
Yang membedakan THE COLLECTORS CLUB dari sekadar bazaar premium adalah ekosistem pengalaman yang dibangun di sekelilingnya.

Pembukaan pada 27 Mei 2026 dirancang layaknya perayaan komunitas – 80 macro dan micro KOL hadir, DJ performance oleh Ariawns mengisi udara, MC Kenny Djafa memandu seluruh rangkaian, dan doorprize menanti pengunjung yang datang. Ini bukan seremoni korporat; ini pesta untuk para kolektor.
Di sudut lain, instalasi seni immersive dari Museum of Toys menjadi highlight yang mengingatkan pengunjung bahwa mengoleksi adalah bentuk seni tersendiri – ekspresi visual dari siapa Anda dan apa yang Anda cintai.
Bagi yang ingin membawa pulang lebih dari sekadar barang, Creative Workshops hadir dengan Leather Journal Workshop dan Ceramic Pendant Workshop pengalaman tangan pertama yang mengajarkan bahwa nilai sebuah objek tidak selalu ada di price tag-nya.
Dan pada 31 Mei 2026, seluruh rangkaian ditutup dengan pengumuman pemenang shopping rewards – sebuah finale yang menegaskan bahwa berpartisipasi di THE COLLECTORS CLUB bukan sekadar keputusan impulsif, melainkan sebuah perjalanan.
Jakarta, Ibu Kota Baru Para Kolektor
Di kota yang bergerak semakin cepat, THE COLLECTORS CLUB menawarkan sesuatu yang langka: sebuah alasan untuk melambat, berkeliling, merasakan, dan terhubung dengan sesama kolektor, dengan karya seni, dengan objek-objek yang menyimpan sejarah di setiap jahitannya.
Ini bukan sekadar event belanja. Ini deklarasi bahwa Jakarta siap punya identitas baru dalam peta luxury global sebuah kota yang tidak hanya mengonsumsi kemewahan, tapi merayakannya dengan cara yang autentik dan penuh karakter.
Your one-stop luxury playground — dan tiket masuknya gratis.
THE COLLECTORS CLUB diselenggarakan pada 27–31 Mei 2026 di Main Atrium, PIK Avenue, Jakarta.
Angle yang digunakan: Artikel ini mengambil sudut pandang “pergeseran budaya luxury di Indonesia” – dari simbol eksklusivitas menjadi ekspresi komunitas dan identitas. Event diposisikan bukan sebagai bazaar, melainkan sebagai momen kultural. Kutipan narasumber dipertahankan 100% utuh dan ditempatkan sebagai titik konfirmasi dari narasi yang sudah dibangun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







