Usung Tema Etnik, Itang Yunasz dan 2 Desainer Ini Membuka Modest Fashion ISEF 2020

ISEF yang diselenggarakan ketujuh kalinya pada tahun ini, untuk pertama kalinya hadir dengan konsep virtual platform. Mengangkat tema “Mutual Empowerment in Accelerating Sharia Economic Growth through Promoting Halal Industries for Global Prosperity”, ISEF 2020 akan menjadi kegiatan ekonomi syariah internasional secara virtual pertama yang mengintegrasikan seluruh komponen penggerak EKSyar.

Selama empat hari penyelenggaraan Modest Fashion ISEF 2020 akan menghadirkan 12 sesi virtual fashion show, 164 desainer/brand, 720 look, dan 180 model.

Rangkaian Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020 diawali dengan parade koleksi yang ditampilkan dalam Opening Ceremony, yaitu Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat Presents Vivi Zubedi, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan Presents Deden Siswanto, Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta Presents Wignyo, Bank Indonesia Perwakilan Bali Presents Dibya, Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta Presents Sofie, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara Presents Irna Mutiara, Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto Presents Alvy Oktrisni, Bank Indonesia Perwakilan Lampung Presents Neera Alatas, Bank Indonesia Perwakilan Sibolga Presents Lisa Fitria X Accessories PALA Nusantara by Ilham Pinastiko, dan Bank Indonesia Provinsi Jambi Presents Itang Yunasz.

Desainer senior Itang Yunasz mengatakan terdapat percampuran etnik dan gaya bohemian serta motif dari batik Jambi binaan UMKM Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi. Warna merah bata dan hitam yang mendominasi menjadi koleksi Itang Yunasz ready to wear. “Seperti sebuah pribahasa yang mengatakan asam di gunung garam dilaut bertemu menjadi satu dalam sebuah belanga,” ucapnya.

Itang Yunasz mempresentasikan 6 koleksinya dengan shilhoutte besar (over size) dan detail kerut serta tangan berbentuk lampion, Dua set tunik dan celana serta dress simpul dengan ornamen tussle yang juga ada di sepatu platform by Nefrin Fadlan dan Bag by Wulan Gandanegara dengan bahan yg sama menambah gaya koleksi ini.

Sementara itu Neera Alatas dalam Virtual Fashion Show ISEF 2020 kali ini menggunakan kain tapis hasil pengrajin binaan Bank Indonesia (BI) perwakilan Lampung. Untuk tema/judul yang diusung adalah “Swarnadwipa” yaitu dalam bahasa Sansekerta Swarnadwipa adalah Pulau Sumatera. Swarnadwipa berasal dari kata “Suwarnadwipa” yaitu pulau emas atau “Suwarnabhumi” yaitu tanah emas.

“Disebut Pulau Emas karena pada bukit barisan yang membujur
sepanjang Pulau Sumatera terkenal banyak menyimpan kandungan emas
dan banyaknya logam mulia yang diperdagangkan,” ucapnya.

Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera yang
memiliki cukup banyak kandungan emas, sehingga mempengaruhi budaya
masyarakat khususnya cara pembuatan dan motif kain tradisional Lampung.

Kain tapis merupakan kain etnik suku Lampung yang terbuat dari tenunan
benang kapas yang dihias dengan sulaman benang emas atau benang perak
yang menjadi simbol kemapanan status sosial, kemewahan dan
kemakmuran masyarakat Lampung.

Dahulu kain Tapis dipakai oleh kalangan elite suku asli Lampung dari kalangan keluarga pemimpin adat atau pemimpin suku pada upacara adat, kain Tapis memiliki makna dan nilai yang tinggi, sehingga dijadikan persembahan atau hadiah dari raja-raja kepada penguasa.

Warna yang dipadukan adalah warna-warna Bold seperti hitam, emas, biru, krem dan hijau dengan sentuhanan benang berwarna emas dan silver. Bahan yang digunakan yaitu kain tapis, kain tenun, tulle, organza dan lace. Meskipun warna yang digunakan bold namun tetap sesuai dengan Brand DNA Neera Alatas. Detail yang digunakan adalah bebatuan payet mutiara dan swarovski Siluet yang diambil adalah siluet A-line, siluet X dan siluet Y.

Masih mengusung etnik Batik Jakarta, Desainer Wignyo Rahardi meluncurkan koleksi “Batavia Metamorfosa”. Motif batik yang diwujudkan dari perpaduan antara garis, bentuk dan isen menjadi satu kesatuan, dipadankan dengan tenun secara apik yang didesain dengan pola layer/bertumpuk, serta sentuhan kombinasi tenun full-bintik.

“Saya membawa style Monochrome Classy dengan material Batik Tulis, Tenun Spunsilk, Tenun Houndstooth, Tenun Full Bintik yang didesain teknik Batik Tulis dan Tenun. Detail masih seperti khas Wignyo yakni layering berwarna black, offwhite, maroon, siluet A & H line dengan total 6 outfits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *