Kisah Remaja 15 Tahun Buat Aksi Gerakan Perubahan Melalui Sampah Elektronik

WomanIndonesia.co.id – Menyadari bahwa Indonesia masih ada banyak sekali sampah. Namun, meskipun sering kali digalakkan jumlah sampah masih terus saja bertambah. Sampah plastik memang jenis sampah yang paling banyak di dunia. Tetapi jenis sampah tidak hanya sampah plastik saja.

Adapun yang namanya sampah elektronik yang jika dibandingkan dengan sampah plastik, jumlahnya memang tidak sebanyak sampah plastik. Namun, sampah elektronik jauh lebih berbahaya dari sampah plastik karena mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Sampah elektronik sendiri adalah peralatan elektronik yang sudah tidak dapat digunakan dan menjadi barang bekas yang harus dibuang dalam keadaan utuh atau tidak. Pertumbuhan jumlah sampah ini pun kian meningkat dan tidak lain disebabkan oleh gaya hidup penggunaan barang elektronik berlebihan.

Menurut data dari Electronics Take Back Coalition di 2016 oleh PBB, terdapat 20 sampai 50 juta metrik ton sampah elektronik dibuang setiap tahunnya di seluruh dunia.

Jika peralatan elektronik itu rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi, maka orang-orang akan cenderung membuangnya atau menyimpannya karena tidak tahu harus dikemanakan barang-barang tersebut.

Pertanyaan seperti itulah yang mendorong Rafa Jafar atau panggilannya, RJ seorang remaja berusia 15 tahun untuk membuat sebuah karya tulis mengenai sampah elektronik dan melakukan sebuah aksi nyata dalam mengumpulkan sampah elektronik.

RJ membuat sebuah wadah bernama EwasteRJ Dropzone yang digunakan untuk mengumpulkan sampah elektronik di beberapa titik di ibukota. Nantinya, hasil dari sampah elektronik itu akan dibawa ke perusahaan yang melakukan daur ulang sampah elektronik.

Kegiatan tersebut telah berlangsung selama 3 tahun dan masih terus ada hingga saat ini. EWasteRJ pun sempat bekerja sama dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk mengumpulkan sampah elektronik, hingga akhirnya pemrov DKI terus melakukan aksi tersebut sendiri.

“Awalnya dari melihat handphone yang rusak dan disimpan begitu saja karena tidak tahu harus dibuang ke mana. Akhirnya, RJ pun mencari tahu dan diminta untuk membuat sebuah karya tulis tentang sampah elektronik dan hasil dari karya tulisnya itu kemudian dijadikan buku,” cerita Farah Dibha ibunda RJ.

Dalam melakukan risetnya, RJ menemukan bahwa masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk menangani sampah elektronik. Katanya, yang paling sering dilakukan oleh masyarakat adalah mengubur, merusak, dan membakarnya. Padahal di balik kegiatan itu terdapat bahaya yang mengancam.

“Padahal jika sampah elektronik dibakar, bahan berbahaya seperti timbal dapat menyebar dari asap pembakaran. Timbal bisa mengganggu sistem peredaran darah, ginjal, otak anak, dan merusak sistem saraf,” jelas RJ.

Sementara itu, jika dirusak sampah elektronik akan memiliki nilai jual yang rendah dan masih sedikit masyarakat yang mengetahui racun pada sampah elektronik sehingga nanti bisa berbahaya. Dan kalau dikubur, racun yang ada dapat menyebar melalui tanah.

Tidak sampai di situ, melalui penyebarannya itu bisa mengkontaminasi tanaman yang ada di sekitar dan jika termakan oleh hewan, maka hewan itu pun ikut terkontaminasi dan berdampak pada manusia jika hewan tersebut dimakan.

“Sebenarnya dikubur memang banyak dilakukan pada negara-negara lain, namanya landfill. Namun, tanahnya harus disemen terlebih dahulu sehingga racun yang ada pada sampah elektronik tidak dapat keluar dan menyebar,” ujar RJ. Hingga saat ini pun, yang melakukan daur ulang sampah elektronik secara legal dan benar hanya 20 persen.

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan sampah plastik yang masih kurang itulah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terlahirnya angka tersebut. Dengan itu RJ pun bersama volunteer EwasteRJ terus melakukan kampanye guna menggerakan masyarakat agar sadar tentang bahaya dari sampah plastik dan tahu apa yang harus dilakukan dengannya.

Ia juga percaha bahwa dapat mengubah kebiasaan buruk masyarakat dengan merangkul generasi milenial yang merupakan generasi penerus bangsa. “Karena aku yakin, suara pemuda itu lebih kuat dan lebih didengar, waktu mereka pun masih panjang. Seperti kata bung Karno, beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia,” ucapnya mantap.
(mge)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *