Purana Home menghadirkan kolaborasi istimewa bersama Dailah Sajian Kontemporer dengan tema Kartini, memadukan estetika wastra Nusantara dalam koleksi tableware dan pengalaman kuliner modern yang sarat makna budaya.
Womanindonesia.co.id – Di tengah geliat industri gaya hidup yang semakin mengarah pada pengalaman holistik, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menciptakan sesuatu yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna. Hal inilah yang dihadirkan oleh Purana Home bersama Dailah Sajian Kontemporer melalui sebuah kolaborasi unik yang memadukan desain home living dengan eksplorasi kuliner berbasis warisan Nusantara.
Mengangkat semangat Hari Kartini di bulan April, kolaborasi ini tidak sekadar menghadirkan produk atau menu baru, tetapi juga merangkai narasi tentang perempuan, budaya, dan identitas yang diwujudkan dalam pengalaman bersantap yang intim dan estetis.
Dari Wastra ke Meja Makan
Bagi Purana Home, perjalanan mereka bukanlah sekadar ekspansi bisnis, melainkan evolusi dari identitas brand yang telah lebih dulu dikenal melalui Purana Fashion. Managing Director Purana Home, Erika Amalia, menjelaskan bahwa lini home living ini lahir dari kekuatan cerita yang terkandung dalam wastra Nusantara.
“Di Oktober 2025 kemarin, kami meluncurkan seri pertama Purana Home berupa tableware yang berangkat dari motif pattern Purana Fashion. Kami kreasikan menjadi koleksi tableware dan textile accessories,” ujar Erika di Jakarta, Rabu (15/4).
Motif yang sebelumnya hadir dalam busana kini ditransformasikan ke dalam medium baru -piring, mangkuk, hingga textile -tanpa kehilangan esensi naratifnya. Bagi Erika, setiap pola bukan sekadar ornamen, melainkan identitas yang membawa cerita.
“Pattern kami itu punya story, punya konsep yang kuat, yang lahir dari identity pattern fashion. Kami percaya apa yang kami hasilkan akan menjadi sesuatu yang timeless, karena ada cerita yang kuat di baliknya,” lanjutnya.
Kolaborasi sebagai Strategi Mendekatkan Diri

Sejak awal, Purana Home memang telah merancang strategi kolaborasi sebagai jembatan untuk mendekatkan produk mereka kepada konsumen. Restoran dipilih sebagai ruang interaksi yang ideal – tempat di mana estetika dan fungsi bertemu secara langsung.
“Kami ingin berkolaborasi dengan restoran yang punya visi yang sama, yaitu mengangkat Wastra Nusantara,” jelas Erika.
Pertemuan dengan Dailah Sajian Kontemporer pun terjadi secara organik. Dari sebuah sesi pemotretan hingga diskusi kreatif, keduanya menemukan kesamaan visi. Momen Hari Kartini kemudian menjadi titik temu ide yang mengikat kolaborasi ini.
“Purana ini berangkat dari perempuan. Dan April identik dengan Kartini. Jadi kami berpikir, menarik jika kita membuat resto takeover dengan tema Kartini sebagai highlight kuliner kolaborasi ini,” ungkapnya.
Menghidupkan Rasa di Era Kartini
Dari sisi kuliner, Dailah Sajian Kontemporer menghadirkan pendekatan riset yang mendalam. Owner Dailah, Annisa Hudaya, mengungkapkan bahwa menu yang disajikan selama kolaborasi ini terinspirasi dari preferensi kuliner di era Kartini, khususnya dari wilayah Jepara dan Jawa Tengah.
“Kami melakukan riset mengenai menu-menu yang disukai di era Kartini. Jadi selama 30 hari ke depan, kami menyajikan menu kolaborasi yang terinspirasi dari sana,” jelas Annisa.
Namun, sebagai restoran yang mengusung konsep kontemporer, Dailah tidak sekadar mereplikasi resep tradisional. Ada sentuhan inovasi yang membuat setiap hidangan terasa relevan dengan selera masa kini.
“Chef kami, Chef Uki dari Bandung, tidak pernah mentah-mentah menyajikan sesuatu. Selalu ada twist. Karena memang kami sekarang mengusung konsep sajian kontemporer, walaupun tetap berakar pada kekayaan bahan lokal,” tambahnya.
Pengalaman Bersantap yang Terkurasi
Kolaborasi ini berlangsung selama satu bulan, hingga 17 Mei, dan dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyeluruh. Tidak hanya tamu undangan atau VIP, pengunjung umum juga dapat menikmati menu spesial ini.
“Ketika tamu memesan menu kolaborasi, akan disajikan menggunakan koleksi dari Purana Home. Bahkan ada section khusus dengan table setting dari Purana,” terang Annisa.
Namun fleksibilitas tetap dijaga. Jika area khusus penuh, hidangan tetap disajikan dengan tableware Purana di meja lain, memastikan setiap tamu merasakan sentuhan estetika yang sama.
Strategi ini sekaligus menjadi cara bagi Purana Home untuk menjawab tantangan terbesar mereka: aksesibilitas.
“Tableware itu berbeda dengan fashion. Orang harus menyentuh, merasakan langsung. Jadi kolaborasi ini adalah cara kami agar produk bisa lebih accessible,” ujar Erika.
Menyasar Pasar yang Lebih Luas
Meski secara natural menyasar perempuan sebagai pasar utama, Purana Home tidak membatasi segmentasi mereka.
“Home living itu digunakan sehari-hari, jadi kami ingin semua kalangan bisa menikmati. Bahkan remaja yang punya passion di desain pun bisa tertarik,” kata Erika.
Dengan harga yang relatif terjangkau-mulai dari Rp800 ribuan untuk satu set dining-Purana Home berupaya menempatkan diri sebagai brand yang tidak hanya estetis, tetapi juga inklusif.
Di sisi distribusi, mereka juga tengah menjajaki kehadiran di berbagai department store besar di Indonesia. Namun sebelum itu terealisasi, restoran menjadi “showroom hidup” yang memungkinkan konsumen merasakan langsung kualitas produk.
“Kami berharap restoran ini bisa menjadi outlet kami juga, sambil kami paralel masuk ke retail yang lebih besar,” tambah Annisa.
Estetika yang Dekat dengan Kehidupan
Salah satu kekuatan Purana Home terletak pada pendekatan desainnya yang familiar namun tetap artistik. Koleksi perdana mereka mengusung warna putih dan biru -palet klasik dalam dunia porcelain.
“White and blue itu warna yang paling universal dan familiar. Dari situ kami mulai, baru nanti kami akan mengeluarkan warna lain seperti pink, white, dan black,” jelas Erika.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana Purana Home tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga relevansi dengan kebiasaan dan preferensi konsumen.
Kartini dalam Perspektif Modern
Lebih dari sekadar momentum, Hari Kartini dalam kolaborasi ini dimaknai sebagai bentuk apresiasi terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Erika bahkan memberikan perspektif personal tentang bagaimana momen ini bisa dirayakan secara sederhana namun bermakna.
“Saya menyarankan, coba buat ide gift dari koleksi home kami untuk pasangan atau ibu. Atau mulai dari diri sendiri, belajar menata table setting yang cantik,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa mengoleksi tableware bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga investasi emosional.
“Mulai dari sekarang, koleksi tableware. Itu akan terpakai dan bisa diwariskan ke anak nanti,” katanya.
Kolaborasi antara Purana Home dan Dailah Sajian Kontemporer menjadi contoh bagaimana desain dan kuliner dapat saling melengkapi dalam menciptakan pengalaman yang lebih dalam. Bukan hanya tentang apa yang disajikan di atas meja, tetapi juga bagaimana meja itu sendiri menjadi bagian dari cerita.
Di tengah dinamika industri kreatif Indonesia, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa kekuatan lokal – baik dalam bentuk wastra maupun kuliner masih memiliki ruang luas untuk dieksplorasi dan diapresiasi.
Dan mungkin, seperti semangat Kartini yang terus hidup dalam berbagai bentuk, kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa inovasi terbaik sering kali berakar dari tradisi yang dipahami dengan sepenuh hati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








