Waspada Cedera Pada Otot Saat Olahraga

WomanIndonesia.co.id – Gaya hidup sehat semakin banyak diminat oleh masyarakat saat ini. Hal ini tidak terlepas dari keinginan untuk menjaga kebugaran tubuh dengan melakukan aktivitas olahraga.

Meskipun terlihat umum, ternyata berolahraga dapat menimbulkan risiko cedera khususnya pada bahu, tangan, dan kaki. Cedera olahraga dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari orang awam hingga atlet profesional.

Baca terus womanindonesia.co.id untuk mendapatkan informasi penting bagi kehidupan Anda.

Kenali Metode Tradisional untuk Cedera Otot

Peradangan otot dan sendi akibat salah posisi, otot yang robek, dislokasi otot, tulang, dan sendi adalah beberapa jenis cedera yang paling sering terjadi saat berolahraga. “Waktu olahraga, otot mengalami pembebanan sehingga terjadi robekan kecil pada otot,” kata dr. Iman Widya Aminata, Sp. OT, dokter spesialis bedah ortopedi.

Semakin banyak robekan yang terjadi, maka semakin banyak proses perbaikan sel tersebut sehingga dapat menimbulkan otot yang lebih besar, tergantung dari waktu dan nutrisi yang diberikan.

Cedera dapat terjadi jika waktu beristirahat kurang, sementara lebih banyak melakukan olahraga. Sedangkan tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat untuk proses perbaikan sel-sel pada otot tersebut.

Bagian yang paling sering mengalami cedera saat olahraga adalah bahu dan kaki. Cedera bahu dapat terjadi baik pada tulang maupun otot, namun struktur tulang yang lebih keras menyebabkan cedera pada bahu sering terjadi pada otot. Cedera juga ada dua kategori, yaitu akut dan kronik.

“Akut yaitu yang baru saja terjadi dan disebabkan oleh trauma atau energi yang signifikan, sementara kronik itu energi atau trauma kecil tetapi berulang-ulang sehingga terjadi robekan atau dislokasi yang berulang,” jelas dr. Iman.

Jangan Abaikan, Masalah Kulit Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius

Ia juga menambahkan ada beberapa penyebab terjadinya cedera yaitu bisa terjadi karena olahraga yang berlebih, dehidrasi, kekurangan elektrolit dalam tubuh, otot kaku karena kurang melakukan pemanasan, atau sirkulasi darahnya yang kurang bagus.

“Sirkulasi darah yang kurang bagus itu bisa disebabkan karena pemakaian baju yang ketat atau memang sirkulasi darah orang tersebut yang kurang baik,” tuturnya.

Untuk penanganannya sendiri, 85 persen pasien melakukan fisioterapi karena dinilai paling efektif dan efesien jika dibandingkan dengan cara konvensional yang menggunakan gips selama berhari-hari.

“Cedera bahu ringan dapat diatasi dengan melakukan peregangan dan memaksimalkan kerja bahu melalui fisioterapi,” kata dr. Iman.

Untuk cedera akibat peradangan otot dapat diatasi dengan istirahat yang cukup, penggunaan kompres es untuk meredakan nyeri, pemberian analgesik untuk mengurangi rasa sakit, serta terapi untuk membantu proses pemulihan bahu.
(mge)