Waspada, Lansia Berisiko Alami Neuropati

WomanIndonesia.co.id – Warga lanjut usia atau lansia (60 tahun keatas) menjadi salah satu populasi tertinggi yang berisiko terkena neuropati. Neuropati merupakan gangguan dan kerusakan saraf tepi karena penyakit, trauma pada saraf, komplikasi penyakit sistemik, dan defisiensi vitamin neurotropik.

Mengapa lansia rentan terkena neuropati?
Seiring bertambahnya usia menyebabkan berkurangnya tingkat kemampuan tubuh menyerap B1, B6, dan B12, sehingga menjadikan lansia sebagai salah satu populasi yang berisiko tinggi akan neuropati.

Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat terhadap kelompok usia 40 tahun ke atas , prevalensi neuropati meningkat seiring pertambahan usia.

Data menyebutkan bahwa prevalensi neuropati kelompok usia 60-69 tahun sebesar 17,5%, kelompok usia 70-79 tahun sebesar 28,4%, dan bahkan kelompok usia 80 tahun ke atas mencapai 34,7%.

Melihat semakin tingginya prevalensi seiring pertambahan usia, edukasi yang berkesinambungan mengenai pencegahan risiko neuropati sangat penting untuk masyarakat umum dan warga lansia.

“Gaya hidup sehat dengan olah raga teratur, istirahat yang cukup, pola makan dengan gizi seimbang dan konsumsi vitamin neurotropik 1 kali sehari sejak dini secara teratur atau sesuai petunjuk dokter dapat menjadi upaya pencegahan gejala neuropati,” jelas Chitra Ariesta, Consumer Health Brand Manager Neurobion, PT P&G Health Indonesia, di Jakarta baru-baru ini.

Lebih lanjut Chitra menuturkan bahwa vitamin neurotropik terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik.

Neurobion merupakan vitamin neurotropik yang memberikan solusi vitamin neurotropik (B1, B6, B12) untuk mengatasi neuropati yang terbukti secara klinis efektif mengurangi gejala neuropati hingga 62,9%. “Neurobion aman dikonsumsi jangka panjang,” kata Chitra.

Studi klinis NENOIN atau Penelitian Non-intervensi dengan Vitamin Neurotropik adalah studi mengenai kesehatan saraf tepi yang dilakukan di delapan pusat rumah sakit besar di Indonesia, yang memperlihatkan efikasi pemberian vitamin neurotropik terhadap neuropati dan telah dipublikasikan di Asian Journal of Medical Sciences 2018.

“Untuk hasil terbaik, Neurobion Forte dapat dikonsumsi oleh mereka dengan gejala neuropati ringan sampai berat. Selanjutnya, untuk menjaga dan mencegah gejala Neuropati muncul kembali, dapat dilanjutkan dengan Neurobion putih,” jelasnya.

Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2019

Neurobion, produsen vitamin neurotropik dari P&G Health Indonesia, bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama warga lansia, mengenai risiko neuropati di acara puncak HLUN 2019 yang diadakan di area Car Free Day (CFD) Senayan Jakarta Minggu (7/7).

Dalam kesempatan ini, Neurobion menyediakan booth pemeriksaan kesehatan saraf (Neuropathy Check Point) sekaligus edukasi gejala, pencegahan, dan solusi untuk mengurangi risiko neuropati.

Wens Arpandy, Group Brand Manager, PT P&G Health Indonesia, mengatakan, “P&G Health Indonesia, melalui Neurobion, berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan dapat menjalani hidup berkualitas melalui kampanye terintegrasi Total Solution yang mengajak masyarakat merawat sarafnya.

“Secara konsisten, kami mendorong masyarakat agar selalu waspada akan risiko neuropati dengan deteksi dini melalui Neuropathy Check Point, aktif melakukan senam kesehatan saraf NeuroMove, dan konsumsi rutin vitamin neurotropik,” kata Wens.

Wens menambahkan, memanfaatkan momen HLUN 2019 secara proaktif mengedukasi langsung masyarakat, terutama warga lansia, untuk mengenali dan mencegah sedini mungkin gejala neuropati.

Masyarakat dapat memeriksakan kesehatan sarafnya di booth Neuropathy Check Point dan berkonsultasi mengenai gejala neuropati secara umum.

“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong warga lansia dan masyarakat pada umumnya untuk menjaga kesehatan sarafnya dengan baik sehingga tetap produktif dan memiliki hidup berkualitas,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *