Dari festival budaya hingga pemberdayaan disabilitas, Cahaya Manthovani membuktikan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal usia – melainkan soal komitmen, visi, dan keberanian untuk memberi dampak.
Womanindonesia.co.id – Ada yang bilang kepercayaan diri adalah segalanya. Tapi bagi Cahaya Manthovani, kepercayaan diri saja tidak cukup – ia membutuhkan pembuktian nyata, satu proyek demi satu proyek, satu event demi satu event.
Di usianya yang baru 26 tahun, perempuan yang akrab disapa Cahaya ini telah memimpin sejumlah agenda nasional bergengsi melalui PT Navaswara Bhuwana Kencana. Mulai dari Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, hingga Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026 – semuanya lahir dari tangannya.
Namun yang membuat kiprah Cahaya Manthovani benar-benar berbeda bukan pada kemegahan acaranya, melainkan pada pesan yang ia titipkan di dalamnya.
Cahaya Manthovani Berawal dari Mengikuti Alur Hidup
Perjalanan Cahaya di industri kreatif bermula dari bangku kuliah di Korea Selatan, negara yang dikenal sebagai salah satu ekosistem kreativitas paling dinamis di dunia. Ia menyelesaikan studi architectural design di Kyungsung University – sebuah latar belakang yang mungkin terdengar jauh dari dunia event organizer, tapi justru membentuk caranya berpikir tentang ruang, narasi, dan pengalaman.
“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea Selatan, yaitu negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” kata Cahaya Manthovani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/5).
Ia tidak merencanakan semuanya secara linear. Tapi satu hal yang ia jaga sejak awal adalah komitmen pada setiap pekerjaan yang datang.
“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya, tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” tuturnya.
Event Bukan Sekadar Panggung Hiburan

Yang membuat Navaswara berkembang bukan hanya karena kualitas produksinya melainkan karena setiap event yang lahir di bawah kepemimpinan Cahaya selalu punya tujuan yang lebih besar dari sekadar kemeriahan semalam.
Cahaya Manthovani menjadikan event sebagai medium percakapan publik: soal budaya, inklusivitas, hingga pemberdayaan masyarakat. Dan semua itu dimulai dari satu pertanyaan mendasar yang ia ajukan sebelum merancang acara apa pun.
“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?,” katanya.
Suara Nusantara, misalnya, lahir dari kegelisahan Cahaya melihat generasi muda yang semakin asing dengan tradisi bercerita dan semakin enggan tampil di depan publik.
“Saya menginisiasi acara ini karena melihat semua orang kebanyakan sibuk bermain dengan gadgetnya sendiri. Ketika diminta untuk presentasi atau bersosialisasi, lebih banyak yang mundur atau gugup,” imbuhnya.
“Nah, untuk menaikkan awareness dengan cara yang menyenangkan itu seperti apa sih? Salah satunya Suara Nusantara. Peserta wajib membaca dan memahami cerita-cerita rakyat di daerah Indonesia. Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta.”
Ketika Kreativitas Bertemu Kepedulian Sosial

Di luar dunia event, Cahaya menyimpan sisi lain yang tak kalah berpengaruh: kepeduliannya yang dalam terhadap isu inklusivitas dan disabilitas.
Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia menginisiasi program Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus dan sekolah disabilitas di Provinsi Banten. Program ini melibatkan 12 UMKM lokal dan berhasil menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.
Ia juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland, sebuah ruang inklusif yang mempertemukan komunitas disabilitas, keluarga, pelaku kreatif, dan publik umum dalam satu ekosistem yang hangat dan bermakna.
Tak berhenti di sana, Cahaya juga pernah mengemban peran sebagai CDM (Chef de Mission) kontingen Indonesia di Asean Youth Paragames 2025 Dubai dan hasilnya luar biasa: 59 medali, terdiri dari 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.
Tantangan Terbesar? First Impression
Di balik deretan pencapaian itu, Cahaya menyimpan cerita tentang tantangan yang mungkin terdengar sederhana, tapi tidak pernah mudah dihadapi: penampilannya yang selalu dianggap terlalu muda.
“Tantangan terbesar adalah first impression orang-orang terhadap saya. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat sangat lebih muda dari umur saya, semua orang selalu mengira saya bocah SMP, SMA, atau kuliah, tidak pernah ada yang mengira saya berusia 26 tahun,” kata Cahaya.
Alih-alih tersinggung, ia justru menjadikan pandangan itu sebagai bahan bakar.
“Dengan berjalan waktu, mereka akan mengungkapkan intensi di belakang, dan saat itulah saya mulai memperlihatkan ketegasan, ketelitian, tegak lurus dan komitmen terhadap misi dan tujuan pekerjaan saya menuju kesuksesan,” katanya.
“Saya selalu memposisikan diri saya dan tim sebagai pemenang, karena saya tidak ada keinginan lain selain berkomitmen dan fokus terhadap target yang ingin dicapai. Industrinya memang kompetitif. Tapi saya lebih kompetitif dari industrinya sendiri.”
Bagi Cahaya, tidak ada kesuksesan yang bisa dibangun sendiri. Kolaborasi bukan sekadar strategi bisnis ia adalah filosofi hidupnya.
“Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi paling banyak di dunia. Beragam isinya, dan juga banyak sekali orang-orang kompeten di bidangnya masing-masing. Saya selalu membuka diri untuk belajar dengan berkolaborasi bersama,” kata Cahaya Manthovani.
Pesan untuk Anak Muda Indonesia
Konsistensinya di dua dunia sekaligus industri kreatif dan gerakan sosial mengantarkan Cahaya meraih penghargaan Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kompas TV, serta The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.
Tapi di balik semua trofi itu, pesan yang paling ingin ia sampaikan justru sederhana:
“Harus sering belajar, sering berlatih skills apa pun yang diminati, sering membaca buku atau berita dan memahaminya.”
“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu hal yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan yang lama. Kuncinya adalah percaya diri dan konsistensi terhadap perkembangan diri.”
Cahaya Manthovani mungkin terlihat seperti mahasiswi biasa ketika pertama kali kamu bertemu dengannya. Tapi tunggu sampai ia mulai berbicara tentang visi, dampak, dan komitmen. Di sanalah kamu akan menyadari ada cahaya yang berbeda dalam dirinya. Dan cahaya itu sedang menerangi lebih banyak orang dari yang ia sadari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








