CAP Bangun Industri Pengolahan Sampah Berbasis Masyarakat

WomanIndonesia.co.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) meresmikan fasilitas Industri Pengolahan Sampah Manajemen Sampah Zero (IPS Masaro) di Kotabumi, Purwakarta, Cilegon, Banten hari ini, Kamis (12/9).

Peresmian IPS ini sebagai langkah awal penerapan sistem ekonomi sirkular untuk memperpanjang masa pakai sampah agar dapat dimanfaatkan kembali.

IPS Masaro mampu mengelola sampah swadaya 1.000 kepala keluarga, didukung oleh sistem pemilahan sampah sesuai katagori yang dilakukan mandiri oleh masyarakat di masing-masing rumah.

Sampah yang sudah terpilah akan ditukarkan dengan insentif dan diambil oleh IPS Masaro pada jadwal yang sudah ditentukan untuk diproses menjadi produk-yang bernilai ekonomi.

“Melalui IPS Masaro, kami mengajak masyarakat meninggalkan sistem pengelolaan sampah konvensional Kumpul-Angkut-Buang dan berpindah pada sistem Pilah-Angkut-Proses, dimana sampah yang terkumpul dikelola secara menyeluruh untuk didayagunakan dan dikelola tanpa sisa. Jadi fasilitas ini tidak memerlukan lahan untuk Tempat Pembuangan Sampah,” jelas Suryandi, Direktur CAP saat menyampaikan sambutan.

Pupuk cair hasil pengolahan sampah organik.(Andi Mardana)

Sampah organik diproses menjadi pupuk cair dan media tanam sedangkan sampah non organik yang masih mempunyai nilai ekonomi diproses menjadi bahan daur ulang dan dijual kepada industri daur ulang.

Sisa sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dibakar di insinerator yang panasnya dimanfaatkan untuk pemrosesan plastik menjadi BBM melalui pirolisator.

Selain dijual, BBM yang dihasilkan juga digunakan untuk bahan bakar kendaraan pengangkut sampah serta mesin peralatan. Dengan demikian semua sampah yang diangkut ke IPS Masaro dapat dikelola seluruhnya dan tidak ada sampah yang mencemari lingkungan.

Dari tiga unit mesin pirolisator yang dioperasian oleh IPS Masaro, satu diantaranya merupakan modifikasi mesin berbahan bakar gas dari seorang siswa volunter yang duduk di kelas 11 di Jakarta Intercultural School yang bernama John Leiman.

“20 kilogram sampah plastik akan menghasilkan 80 persen bahan bakar (bensin, solar, minyak tanah), sisanya adalah residu,” kata John kepada wartawan.

CAP menyambut baik dan mengapresiasi antusiasme dan hasil kerja John untuk mesin pirolisis skala kecil ini yang telah berkontribusi langsung dalam pengoperasian fasilitas IPS Masaro.

Lewat kemitraan yang solid dengan Asosiasi Industri Olefins Aromatik Plastik Indonesia (INAplas), Institut Teknik Bandung (ITB), Pemerintah Daerah serta masyarakat dalam penerapan konsep Masaro ini, CAP bertekad membangun kebiasaan yang baik dalam memilah sampah.

Disamping itu, Masaro juga bertujuan menciptakan kawasan zero waste sebagai pilot project percontohan yang dapat direplikasi untuk menjadi salah satu solusi permasalahan sampah di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *