Womanindonesia.co.id – Sebagai ibu, kita sudah sangat terbiasa dengan pemandangan anak yang demam, hidung meler, dan rewel semalaman. Rasanya hampir seperti ritual tahunan yang tak terelakkan. Kita kompres, kita peluk, kita jaga bergantian dengan suami, dan ketika anak pulih, kita pun menghela napas lega.
Tapi pernahkah kita benar-benar berhenti dan bertanya – seberapa serius penyakit yang baru saja dilalui anak kita itu?
Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si., anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), punya jawaban yang perlu kita dengarkan baik-baik.
“Influenza jangan dianggap enteng. Influenza bisa menyebabkan demam tinggi, radang paru, radang jantung, bahkan radang otak. Penyebabnya adalah virus influenza tipe A dan tipe B – ini berbeda jauh dengan pilek biasa.”
Balita: Kelompok yang Paling Berisiko
Di antara semua kelompok usia, balita menempati posisi paling rentan ketika berhadapan dengan virus influenza. Bukan karena mereka lebih sering terpapar, melainkan karena sistem imun mereka belum matang sepenuhnya untuk melawan virus sekuat influenza.
Prof. Soedjatmiko menjelaskan bahwa data dari berbagai negara menunjukkan pola yang konsisten.
“Yang terbanyak masuk rumah sakit adalah balita. Yang masuk ICU terutama adalah balita, dewasa, dan lansia. Kematian akibat influenza paling banyak terjadi pada balita,” kata Prof Soedjatmiko di Jakarta Kamis (23/4).
Bayangkan angka itu: bukan sekadar anak yang demam dan sembuh dalam tiga hari. Balita dengan influenza berat bisa berakhir di ruang ICU – ruangan yang bahkan bagi orang dewasa pun terasa menakutkan.
Dan situasi ini bukan sekadar skenario teoritis. Pada 2025, kasus influenza berat yang harus ditangani di ICU di Indonesia melonjak dari 12 persen menjadi 23 persen. Hampir satu dari empat pasien influenza berat kini membutuhkan perawatan intensif.
Radang Paru yang Sering Tak Disadari
Salah satu komplikasi paling mengancam dari influenza pada anak adalah pneumonia – radang paru. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa flu yang tampaknya biasa bisa berkembang menjadi infeksi paru yang serius dalam waktu singkat.
Prof. Soedjatmiko mengutip data global yang seharusnya membuat kita lebih waspada. “Kalau ada anak yang menderita pneumonia berat, penyebab nomor tiga adalah virus influenza. Bukan common cold, bukan selesema – virus influenza. Dan di Indonesia, setiap jam ada dua hingga tiga orang meninggal karena radang paru,” katanya.
Angka itu diam-diam mengalir setiap jam, setiap hari, tanpa pemberitaan besar. Tidak seperti wabah penyakit lain yang langsung menjadi headline, influenza kerap berlalu tanpa perhatian – sampai ia merenggut seseorang yang kita cintai.
Ancaman yang Datang dari Dalam Rumah Sendiri
Inilah bagian yang kerap luput dari perhatian para ibu: bayi dan balita tidak hanya tertular influenza dari luar rumah. Sumber penularan terbesar justru bisa berasal dari lingkaran terdekat – orang-orang yang paling menyayangi mereka.
“Nenek atau pengasuh yang merawat bayi di rumah pun perlu divaksinasi, karena mereka bisa menjadi sumber penularan,” kata Prof Soedjatmiko.
Bayangkan situasinya: seorang nenek yang penuh kasih, setiap hari menggendong dan menciumi cucunya, tanpa sadar membawa virus influenza yang ia sendiri mungkin hanya rasakan sebagai “meriang biasa.” Bagi sang nenek, gejalanya ringan. Bagi bayi di pelukannya, virusnya bisa menjadi ancaman serius.
Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai strategi cocooning – melindungi bayi dengan cara memvaksinasi semua orang dewasa di sekitarnya. Ayah, ibu, nenek, kakek, pengasuh – semua perlu terlindungi agar si kecil yang belum bisa divaksin pun tetap aman dalam selimut perlindungan keluarga.
Kapan Perlindungan Dimulai?
Vaksinasi influenza untuk anak dapat diberikan mulai usia 6 bulan. Ini bukan usia yang dipilih sembarangan – di bawah usia tersebut, bayi masih mendapat perlindungan dari antibodi sang ibu. Begitu memasuki usia 6 bulan, mereka perlu mulai membangun perlindungannya sendiri.
Untuk dosis pertama, vaksin diberikan dua kali dengan jarak satu bulan. Setelah itu, cukup satu kali setiap tahun – seumur hidup.
Para ibu yang khawatir sudah “terlambat” pun tak perlu resah. Prof. Soedjatmiko menegaskan dengan penuh keyakinan. “Tidak ada kata terlambat. Anaknya sudah 7 bulan, 8 bulan, 9 bulan belum divaksin influenza? Tidak apa-apa, tetap boleh. Kapan pun bisa dimulai,” tuturnya.
Kalventis: Solusi Nyata untuk Perlindungan Keluarga Indonesia
Di tengah meningkatnya ancaman influenza, ketersediaan vaksin yang tepat menjadi kunci. PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis), hadir dengan vaksin influenza trivalent yang formulasinya selaras dengan rekomendasi terkini WHO – mencakup dua strain virus A (H1N1 dan H3N2) serta satu strain virus B (Victoria).
Vidi Agiorno, Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, menegaskan komitmen ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan tanggung jawab kesehatan publik yang lebih besar.
“Kalbe melalui Kalventis berkomitmen menyediakan solusi pencegahan penyakit menular yang mutakhir dan efektif bagi masyarakat Indonesia dengan menghadirkan vaksin influenza trivalent. Ketersediaan vaksin ini penting untuk mencegah perburukan akibat penyakit influenza, risiko rawat inap, dan kematian,” kata Vidi.
Pernyataan ini selaras dengan data yang disampaikan Prof. Soedjatmiko – bahwa influenza bukan penyakit yang boleh dianggap enteng, terutama bagi balita yang paling rentan mengalami komplikasi berat hingga kematian.
Yang membedakan pendekatan Kalventis bukan hanya pada produknya, melainkan pada ekosistem perlindungan yang dibangun di sekelilingnya. Vidi menjelaskan lebih jauh sebagai perusahaan farmasi yang berlandaskan sains dan data, Kalventis bersama Kalbe menghadirkan solusi kesehatan yang selaras rekomendasi WHO.
“Kalventis juga membangun ekosistem yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan, penyediaan informasi layanan vaksinasi yang mudah diakses, serta kampanye kesadaran publik untuk mencapai herd immunity dan memastikan setiap keluarga Indonesia mendapatkan perlindungan optimal dari risiko influenza,” tutur Vidi.
Komitmen ini juga sejalan dengan tema World Immunization Week tahun ini – “For Every Generation, Vaccines Work” – sebuah pengingat bahwa perlindungan vaksin relevan untuk setiap tahapan usia, dari bayi yang baru memasuki usia enam bulan hingga kakek-nenek yang merawat cucu di rumah.
Satu hal lagi yang memudahkan para ibu: karena Indonesia berada di garis khatulistiwa, vaksinasi influenza dapat dilakukan “kapan saja sepanjang tahun” – tidak terikat musim seperti di negara-negara lain. Tidak ada alasan untuk menunda.
Selain vaksinasi, langkah-langkah pencegahan sederhana tetap perlu diterapkan setiap hari di rumah. Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun setelah bermain dan sebelum makan. Ajarkan cara bersin yang benar – tutup dengan siku atau tisu, bukan telapak tangan, lalu buang tisu langsung ke tempat sampah. Gunakan masker jika ada anggota keluarga yang sakit, dan hindari menyentuh area wajah bayi dengan tangan yang belum dicuci, karena virus influenza dapat masuk melalui mata, hidung, maupun mulut.
Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, dikombinasikan dengan vaksinasi tahunan, adalah benteng perlindungan yang paling realistis dan paling bisa kita bangun sendiri untuk keluarga.
Menjadi ibu berarti selalu berada dalam mode siaga – membaca tanda-tanda, mengambil keputusan, melindungi. Perlindungan terhadap influenza adalah salah satu keputusan yang sesungguhnya ada sepenuhnya di tangan kita.
Bukan keputusan yang rumit. Bukan yang membutuhkan keahlian khusus. Hanya keputusan untuk tidak lagi menganggap enteng sesuatu yang sudah terlalu lama kita remehkan.
“Ayo kita jaga anak-anak kita dari bahaya influenza. Balita paling berisiko, tapi yang sakit bisa semua umur. Jangan tunggu sampai kena baru menyesal,” ajak Prof Soedjatmiko.
Kita tidak perlu menunggu. Perlindungan termasuk melalui vaksin influenza trivalent dari Kalventis bisa dimulai hari ini, untuk generasi yang paling kita cintai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







