Womanindonesia.co.id – Dalam lanskap pendidikan yang terus berubah, pendekatan belajar tak lagi bisa terpaku pada metode konvensional. Anak-anak masa kini membutuhkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, dan relevan dengan dunia mereka. Inilah yang menjadi benang merah dari inisiatif terbaru OREO melalui program “OREO Berbagi Seru”, sebuah gerakan kolaboratif yang menempatkan pembelajaran seru sebagai fondasi pendidikan anak Indonesia.
Selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian dari keseharian keluarga Indonesia, OREO kini memperluas kontribusinya di dunia pendidikan dengan menyasar 7.000 siswa di tujuh provinsi, termasuk wilayah 3T dan marginal. Program ini hadir sebagai bentuk dukungan terhadap visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yaitu “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, sekaligus memperkuat pemerataan akses pendidikan di Indonesia.
Bermitra dengan Indonesia Mengajar, program ini menghadirkan pendekatan belajar sambil bermain melalui distribusi alat pembelajaran inovatif di bidang literasi, numerasi, sains, dan bahasa Inggris. Semua dirancang selaras dengan prinsip deep learning yang menekankan pembelajaran meaningful, mindful, dan joyful.
Dalam sambutannya, Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun karakter anak bangsa. Upaya Kemendikdasmen RI untuk mewujudkan ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’ salah satunya dilakukan dengan memperkuat pendidikan karakter melalui gerakan ‘7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat’.
“Sejalan dengan tagline Pak Menteri yaitu ‘Partisipasi Semesta’, pembangunan karakter ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, kami ingin berkolaborasi dengan lebih banyak, termasuk dengan pihak korporasi. Tidak hanya itu, selaras dengan salah satu concern Pak Menteri yaitu 3T atau wilayah yang akses pendidikannya sangat minimal, kami juga menginginkan kolaborasi yang semakin kuat dengan teman-teman korporasi untuk menyukseskan program di wilayah-wilayah ini, seperti yang dilakukan OREO,” terang Mariman di Jakarta, Rabu (22/4)
Senada dengan hal tersebut, Dr. Rita Pranawati menyoroti tantangan nyata di lapangan, khususnya terkait kesenjangan akses pendidikan. Sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam, akses pendidikan di sejumlah wilayah – terutama wilayah dengan keterbatasan akses dan tantangan geografis – masih perlu terus diperkuat.
“Di beberapa wilayah tersebut, anak-anak masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan serta akses terhadap media pembelajaran yang beragam. Kesenjangan ini telah mempengaruhi hasil belajar, terutama di bidang Literasi, Numerasi, dan Sains,” ujarnya, merujuk pada data PISA 2022 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari 80 negara.
Dari sisi industri, Mondelēz Indonesia sebagai perusahaan di balik OREO menegaskan komitmennya dalam mendukung pendidikan. Marketing Director Mondelēz Indonesia, Anggya Kumala, menyampaikan “Sebagai brand yang sangat dekat dengan keluarga Indonesia, OREO secara konsisten berkomitmen untuk berkontribusi di bidang pendidikan sebagai salah satu bekal penting yang mendukung kemajuan bangsa dengan mengubah proses belajar menjadi momen-momen penuh keseruan.”
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tema “OREO Berbagi Seru” tahun ini menjadi upaya nyata dalam menjembatani kesenjangan pendidikan. “Dengan mengangkat tema ‘OREO Berbagi Seru’, tahun ini OREO ingin mendukung fokus Pemerintah dengan berkontribusi dalam menjembatani kesenjangan pendidikan… agar para siswa bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan seru secara lebih merata dan inklusif sehingga mereka memiliki kesempatan setara untuk berkembang menjadi Generasi SERU.”
Dari perspektif psikologi anak, Irma Gustiana menegaskan bahwa metode belajar yang menyenangkan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut anak memiliki keterampilan yang lebih kompleks. “Dalam hal belajar, teori psikologi dari Piaget menekankan bahwa anak bukan hanya menerima informasi, tetapi mereka membangun pengetahuan secara internal melalui interaksi dan eksplorasi. Untuk itu, dibutuhkan dukungan pendidikan yang relevan dengan dunia mereka yaitu melalui serunya bermain,” jelasnya.
Pendekatan ini juga diamini oleh Ayu Dewi sebagai orang tua. Ia menilai bahwa pola belajar interaktif menjadi kunci dalam membentuk karakter anak.
“Anak zaman sekarang nggak bisa disamakan dengan generasi dulu. Jadi, di rumah aku ikut mengutamakan proses belajar dua arah yang lebih interaktif. Tapi aku sadar, hal ini adalah sebuah ‘kemewahan’ yang mungkin belum bisa dirasakan oleh semua anak. Untuk itu, salut untuk OREO dan program ‘OREO Berbagi Seru’.”
Tak hanya berhenti pada distribusi alat belajar, program ini juga menghadirkan School Roadshow sebagai ruang edukasi bagi guru, orang tua, dan komunitas. Inisiatif ini sekaligus mendukung gerakan “Gemar Belajar” dalam program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.
Menariknya, masyarakat luas juga diajak berpartisipasi. Melalui pembelian produk OREO, konsumen turut berkontribusi karena sebagian keuntungan akan dikonversikan menjadi donasi pendidikan.
Menutup rangkaian inisiatif ini, Anggya menyampaikan harapannya. “Semoga seluruh rangkaian edukasi dan pendistribusian bantuan dari program ‘OREO Berbagi Seru’ dapat menjadi wujud nyata dari pentingnya kolaborasi lintas pihak… agar bersama-sama kita dapat menumbuhkan lebih banyak Generasi SERU di Indonesia,” harapnya.
Di tengah tantangan pendidikan yang kompleks, satu hal menjadi jelas: pembelajaran yang seru bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama untuk membentuk generasi yang adaptif, kritis, dan berdaya saing di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







